Kamis, 23 Sep 2021 08:10 WIB

Riset Sebut COVID-19 Berat Picu Autoimun, Berkaitan dengan Penularan Via Udara?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Corona Viruses against Dark Background Ilustrasi. (Foto: Getty Images/loops7)
Jakarta -

Penelitian terbaru menyebut COVID-19 bergejala berat dapat mengelabui sistem kekebalan untuk memproduksi autoantibodi, yang berpotensi menyerang jaringan sehat dan memicu penyakit inflamasi.

Hal tersebut dipaparkan dalam makalah yang diterbitkan di Nature Communications. Disebutkan, terdapat autoantibodi pada 50 persen dari 147 pasien COVID-19 dan 15 persen dari 41 sukarelawan yang sehat. Pada 48 pasien COVID-19, peneliti mengambil sampel darah di hari berbeda, termasuk hari masuk RS, untuk membantu melacak perkembangan autoantibodi.

"Dalam seminggu sekitar 20 persen dari pasien ini telah membentuk antibodi baru untuk jaringan mereka sendiri yang tidak ada pada hari mereka dirawat," ujar pemimpin penelitian, Dr Paul Utz dari Universitas Stanford dalam keterangan tertulis, dikutip dari Reuters, Kamis (23/9/2021).

"Jika pasien COVID-19 mendapatkan kasus bergejala berat, pasien dapat menghadapi masalah seumur hidup karena virus memicu autoimunitas. Kami belum mempelajari pasien cukup lama untuk mengetahui apakah autoantibodi ini masih ada satu atau dua tahun kemudian," lanjutnya.

Ada kaitan dengan penularan via udara?

Penelitian lain menyebut virus Corona hidup lebih baik di udara. Disebutkan, pasien COVID-19 dengan infeksi varian Alpha mengeluarkan virus 43 sampai 100 kali lebih banyak ke udara daripada pasien COVID-19 dengan varian Corona versi asli.

Para peneliti juga menemukan, masker yang longgar pada pasien COVID-19 mengurangi jumlah partikel bermuatan virus di udara hanya sekitar 50 persen.

"Kita tahu bahwa varian Delta yang beredar sekarang bahkan lebih menular daripada varian Alpha," terang rekan penulis Don Milton dari University of Maryland School of Public Health dalam pernyataannya.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa variannya terus menjadi lebih baik dalam perjalanan melalui udara. Kami harus menyediakan ventilasi yang lebih baik dan memakai masker yang ketat, selain vaksinasi, untuk membantu menghentikan penyebaran virus," pungkasnya.



Simak Video "Hati-hati dengan Badai Sitokin "
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)