Jumat, 24 Sep 2021 16:19 WIB

Fakta-fakta Varian Corona Baru R.1, Bakal 'Seganas' Delta?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Virus Corona Varian Delta Melonjak di RI, Ini Fakta-faktanya Ilustrasi varian Corona R.1. (Foto: Getty Images/loops7)
Jakarta -

Kemunculan varian R.1 kembali menarik perhatian dunia, khususnya Amerika Serikat (AS). Pasalnya, varian ini belum lama ditemukan di sebuah panti jompo di Kentucky, AS. Varian ini juga diketahui telah menyebar di 47 negara bagian di sana.

Varian R.1 ini disebut-sebut diidentifikasi pertama kali di AS pada bulan Maret lalu. Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), sekitar 26 pasien dan 20 perawat positif terinfeksi virus Corona. Sebanyak 28 spesimen yang diteliti dari kasus tersebut ternyata terinfeksi varian R.1.

Bagaimana risiko penularan dari varian R.1 ini?

CDC mengungkapkan risiko penularan dari varian R.1 ini jauh lebih tinggi pada orang yang tidak divaksinasi COVID-19. Bahkan laporan CDC juga menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 masih kurang efektif untuk melawan varian R.1 ini.

"Risiko penularan varian R.1 terhadap pasien yang tidak divaksin tiga kali lebih tinggi dari mereka yang telah divaksinasi," bunyi laporan CDC yang dikutip dari Prevention, Jumat (24/9/2021).

Apa yang membuatnya lebih berbahaya?

Varian R.1 ini merupakan salah satu varian Corona yang memiliki beberapa mutasi, salah satunya adalah mutasi D614G. Mutasi ini sudah terbukti mampu meningkatkan kemampuan penularan virus. Meski belum pasti, varian ini diduga lebih menular daripada varian Corona lainnya.

Apa kata WHO?

Saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum mengkategorikan varian R.1 ini ke dalam variant of concern (VoC) maupun variant of interest (VoI). Jika sebelumnya varian R.1 ini dikategorikan sebagai 'Alert for Further Monitoring', kini varian tersebut masuk sebagai 'Variant Under Monitoring'.

Dalam daftar pantauan varian COVID-19, WHO menyebut varian R.1 ini pertama kali terdeteksi pada Januari 2021 di 'multiple countries'. Tetapi, banyak juga sumber yang mengatakan bahwa varian ini muncul pertama kali di Jepang, sehingga disebut sebagai 'varian asal Jepang'.

Apa yang harus diwaspadai dari varian R.1?

Menurut dokter spesialis penyakit menular dan profesor di Vanderbilt University School of Medicine, William Schaffner, varian R.1 ini tidak perlu mendapatkan perhatian yang lebih. Sebab, keberadaan varian Delta saat ini masih harus ditangani dengan serius.

Meski begitu, Schaffner tetap mendorong pemerintah setempat untuk mencari asal-usul dari varian R.1 tersebut. Ini dilakukan untuk mengetahui lebih jauh penyebaran varian tersebut.

Selaras dengan Scaffner, pakar penyakit menular Amesh A Adalja juga mengatakan untuk tidak terlalu mengkhawatirkan varian R.1 ini. Itu karena varian R.1 tidak seganas varian Delta yang saat ini masih mengancam di seluruh dunia.

"Namun, penting untuk mempelajari varian ini, responnya terhadap vaksin dan antibodi monoklonal, serta penyebarannya," pungkasnya.



Simak Video "Potensi Penularan Varian Covid-19 R.1 yang Tengah Merebak di AS"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)