Selasa, 28 Sep 2021 08:57 WIB

Malaysia Bandingkan Vaksin Sinovac Vs Pfizer Vs AstraZeneca, Ini Hasilnya

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Seorang vaksinator menyiapkan vaksin COVID-19 Sinovac saat vaksinasi COVID-19 massal di Holy Stadium Marina, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (1/7/2021). Sentra Vaksinasi COVID-19 yang diselenggarakan Pemkot Semarang dengan target enam sampai tujuh ribu penerima vaksin per hari itu akan berlangsung tiga hingga empat bulan ke depan guna mempercepat program pemerintah untuk mencapai kekebalan komunal menuju Indonesia sehat bebas COVID-19. ANTARA FOTO/Aji Styawan/wsj. Perbandingan efektivitas vaksin COVID-19. (Foto: ANTARA FOTO/AJI STYAWAN)
Jakarta -

Malaysia melakukan studi untuk mengungkap efektivitas vaksin Sinovac, Pfizer, dan AstraZeneca terhadap COVID-19. Ketiganya disebut menawarkan perlindungan yang baik untuk mencegah COVID-19.

Dikutip dari Reuters, dalam studi tersebut disebutkan vaksin Sinovac sangat efektif mencegah gejala berat dan serius, meski efikasinya lebih rendah daripada Pfizer dan AstraZeneca.

Studi yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia menemukan ada 0,011 persen dari sekitar 7,2 juta penerima vaksin Sinovac dirawat di unit perawatan intensif (ICU) untuk infeksi COVID-19.

Sementara ada 0,002 persen dari sekitar 6,5 juta penerima vaksin Pfizer membutuhkan perawatan ICU untuk infeksi COVID-19. Untuk vaksin AstraZeneca, ada 0,001 persen dari 744.958 penerima yang dirawat di ICU.

Kalaiarasu Peariasamy, direktur di Institute for Clinical Research yang melakukan penelitian bersama dengan gugus tugas COVID-19 nasional, mengatakan vaksinasi, terlepas dari mereknya, telah mengurangi risiko masuk ke perawatan intensif sebesar 83 persen dan menurunkan risiko kematian.

"Tingkat terobosan untuk unit perawatan intensif sangat rendah," katanya, menambahkan penerimaan ICU secara keseluruhan di antara individu yang divaksinasi penuh mencapai 0,0066 persen.

Tingkat kematian orang yang divaksinasi lengkap juga rendah yaitu 0,01 persen dan mayoritas dari mereka berusia di atas 60 tahun atau dengan penyakit penyerta.

"Ada perbedaan demografi penerima ketiga vaksin dan itu bisa menghasilkan hasil yang berbeda," ujar Kalaiarasu.

Banyak penerima AstraZeneca berada di "usia pertengahan dewasa", sedangkan vaksin Pfizer dan Sinovac diberikan untuk populasi yang rentan.

Pada bulan Juli, Malaysia mengatakan akan menghentikan pemberian vaksin Sinovac setelah persediaannya habis, karena memiliki cukup banyak vaksin lain untuk programnya.

Vaksin Sinovac telah digunakan secara luas di beberapa negara termasuk China, Indonesia, Thailand dan Brasil, dan perusahaan tersebut mengatakan awal bulan ini telah memasok 1,8 miliar dosis di dalam dan luar negeri.



Simak Video "Singapura Resmi Gunakan Vaksin Pfizer untuk Remaja 12-15 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)