Rabu, 29 Sep 2021 16:00 WIB

Siapa Saja yang Masuk Kriteria Penerima Vaksin Booster? Ini Kata Kemenkes

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo meninjau pemberian vaksinasi COVID 19 di RPTRA Amir Hamzah, Jakarta, Rabu(29/9/21). Kegiatan bakti sosial dan mobil vaksin door to door untuk masyarakat umum dengan jenis vaksin sinovac, astrazeneca dan modena dengan penerapan protokol kesehatan untuk mempercepat target vaksinasi pemerintah guna menciptakan kekebalan kelompok. Ilustrasi vaksinasi COVID-19. (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Pemerintah telah merencanakan program booster vaksin COVID-19 untuk masyarakat umum. Namun, program ini masih dianggap terlalu dini, melihat masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan dosis vaksinasi yang lengkap.

Rencananya, vaksin booster ini akan diberikan untuk orang-orang yang membutuhkan vaksin tersebut mulai tahun 2022. Lalu, bagaimana menentukan kriteria orang-orang yang membutuhkan vaksin booster?

"Tentu (dari) studi. Kemarin studi kita di golongan SDM kesehatan (nakes) yang sudah menunjukkan memang imunitasnya di sekitar bulan keenam sudah menurun. Karena waktu yang lalu kita kasusnya sempat naik sangat tinggi, yang mengakibatkan SDM kesehatan kita ini jadi sangat berisiko karena mereka harus melayani kasus-kasus COVID-19," jelas Plt Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Ditjen P2P Kemenkes dr Prima Yosephine dalam diskusi daring, Kamis (29/9/2021).

"Jadi, walaupun mereka sudah divaksin 2 kali, kami mengambil kebijakan untuk memberikan dosis ketiga bagi mereka," imbuhnya.

Tak hanya untuk nakes, studi serupa juga dibutuhkan untuk masyarakat umum. Hal ini dibutuhkan untuk menetapkan kriteria masyarakat dan waktu yang paling tepat untuk mendapatkan booster tersebut.

Seperti studi untuk vaksin Sinovac yang dilakukan di Bandung, sampai saat ini masih terus diikuti perkembangannya. dr Prima mengatakan sebenarnya bisa saja menggunakan studi vaksin yang menggunakan jenis vaksin yang sama dari negara-negara lain.

"Jadi, kebijakan ini kita mengambilnya kan memang harus hati-hati dan cermat. Artinya dengan studi yang komprehensif, membandingkan data mungkin juga bisa kita ambil sebagai pembanding, lalu kita akan memutuskan," kata dr Prima.

"Cuma untuk equity memang kita lebih fokus dulu sekarang untuk bagaimana menyelesaikan dosis 1 dan 2 ini. Jadi, jangan sampai saat kita memikirkan booster, kita meninggalkan orang-orang yang belum dapat, itu kan jauh lebih penting," pungkasnya.



Simak Video "Alasan WHO Minta Penyuntikan Vaksin Booster Covid-19 Ditunda Dulu"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)