Senin, 04 Okt 2021 12:37 WIB

'Kerabat Dekat' COVID-19 Ditemukan di Laos

Nafilah Sri Sagita K, Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Virus Nipah dikhawatirkan dapat jadi ancaman munculnya pandemi baru di dunia. Selain karena angka kematian yang tinggi, virus itu diketahui belum ada obatnya. 'Kerabat dekat' COVID-19 ditemukan pada kelelawar. (Foto: Getty Images/Lauren DeCicca)
Jakarta -

Cukup banyak teori asal usul COVID-19 yang hingga kini belum terbukti. Termasuk konspirasi kebocoran virus dari laboratorium Wuhan, dugaan tersebut muncul karena wabah COVID-19 pertama kali dilaporkan di pasar basah Wuhan.

Kini, dua studi baru mematahkan teori bocornya COVID-19 dari laboratorium Wuhan. Pasalnya, para ilmuwan menemukan virus yang sangat mirip dengan SARS-CoV-2 pada kelelawar berlokasi di gua Laos Utara, dekat dengan perbatasan China.

Mereka mengambil sampel darah, air liur, feses dubur, dan urine dari 645 kelelawar di 46 spesies berbeda di gua batu kapur tersebut. Ada tiga jenis virus terpisah di tiga spesies kelelawar Rhinolophus, yang dikenal kelelawar tapal kuda.

"Sekuensing RNA mengungkapkan bahwa virus ini lebih dari 95 persen identik dengan SARS-CoV-2, dan satu virus terdekat dengan SARS-CoV-2 yang ditemukan sejauh ini, adalah 96,8 persen serupa," jelas peneliti dikutip dari Medical News Today.

Eksperimen lebih lanjut menunjukkan bahwa binding receptor domain dari virus memiliki afinitas tinggi untuk reseptor ACE2 manusia. Ini sebanding dengan afinitas strain SARS-CoV-2 yang ditemukan para ilmuwan di awal pandemi, menunjukkan bahwa virus ini dapat menginfeksi manusia secara langsung, artinya pandemi sangat mungkin terjadi secara alamiah bukan rekayasa.

Tahun lalu, para ilmuwan mendeteksi virus serupa di Yunnan, di China Barat Daya. Virus tersebut 96,1 persen mirip dengan SARS-CoV-2, yang berarti jurnal ini menggambarkan virus atau 'kerabat terdekat' yang terdeteksi.

Prof Edward Holmes dari University of Sydney, Australia, yang telah mempelajari kemunculan dan penyebaran SARS-CoV-2 tetapi tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan kepada Medical News Today bahwa makalah terkait temuan tersebut sangat signifikan.

"Menurut saya, virus ini tidak hanya ditemukan pada kelelawar dan trenggiling. Ekologi tidak seperti itu. Saya menduga mereka juga akan ditemukan pada spesies mamalia lain tetapi belum diambil sampelnya," kata Prof Holmes.

Tonton juga Video: AS dan China Saling Tunjuk soal Asal Usul Virus Corona

[Gambas:Video 20detik]



(sao/naf)