Selasa, 05 Okt 2021 13:01 WIB

Terungkap, 'Biang Kerok' Banyak Pasien Kena Long COVID

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal
Jakarta -

Pasien COVID-19 yang telah sembuh dari infeksi ternyata tidak menjamin dirinya bisa terbebas dari efek virus Corona. Sebagian pasien yang telah sembuh kesehatannya bisa kembali normal, tetapi ada juga yang masih mengalami gejalanya dalam waktu yang cukup lama atau disebut long Covid.

Long Covid merupakan kondisi di mana seseorang masih mengalami sejumlah gejala COVID-19, meski sudah sembuh dari infeksi virus. Gejala ini juga mampu bertahan berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Apa sebenarnya penyebab long Covid ini?

Para ilmuwan mengungkapkan kondisi long Covid ini bisa disebabkan adanya gumpalan kecil yang 'terperangkap' di dalam darah selama berminggu-minggu usai sembuh dari COVID-19. Dari studi kecil, mereka menemukan pasien long Covid ini memiliki sejumlah besar molekul inflamasi yang menyumbat aliran darahnya.

Penyumbatan ini berpotensi mengganggu kemampuan tubuh untuk mendistribusikan oksigen dan nutrisi penting. Para ahli memperkirakan hal inilah yang menjadi penyebab umum dari munculnya gejala long Covid, seperti kelelahan, sakit kepala, hingga kesulitan bernapas.

Studi yang dilakukan peneliti asal Afrika Selatan ini mengatakan gumpalan mikro yang ada di dalam aliran darah inilah yang mungkin menjadi penyebab atau salah satu faktor yang berkontribusi menyebabkan long Covid.

Selain itu, studi lainnya juga ikut mengungkap penyebab di balik long Covid ini. Studi yang dilakukan oleh Profesor Pretorius dari departemen ilmu fisiologis di Universitas Stellenbosch ini membandingkan darah yang dikumpulkan dari 11 orang dengan long Covid dan 13 orang yang sehat.

"Kami menemukan tingkat tinggi berbagai molekul inflamasi yang terperangkap dalam gumpalan mikro yang ada dalam darah individu dengan long Covid," jelasnya yang dikutip dari Daily Mail, Selasa (5/10/2021).

"Beberapa molekul yang terperangkap mengandung protein pembekuan, seperti fibrinogen serta alpha(2)-antiplasmin," lanjutnya.

Fibrinogen adalah protein yang ditemukan dalam darah dan membantu tubuh membuat gumpalan untuk menghentikan pendarahan. Sementara alpha(2)-antiplasmin, merupakan molekul yang membantu mencegah penggumpalan darah pecah.

Umumnya, dalam kondisi yang normal tubuh bisa menjaga keseimbangan bahan pembekuan dan anti pembekuan untuk membantu tubuh mengurangi kehilangan darah setelah cedera. Ini juga mencegah gumpalan tumbuh terlalu besar dan membatasi aliran oksigen.

Profesor Pretorius mengatakan jumlah alpha(2)-antiplasmin yang tinggi yang terjebak di dalam darah menyebabkan kemampuan tubuh untuk memecah gumpalan sangat berkurang.

Meski begitu, Profesor Pretorius juga menyarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi temuannya ini dengan ukuran sampel yang lebih besar. Selain itu, ia juga merekomendasikan penelitian lanjutan soal jenis perawatan yang tepat untuk mendukung sistem pembekuan darah pada pasien long Covid ini.



Simak Video "Temuan WHO: Seperempat Penyintas Corona di Dunia Alami Long Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)