Rabu, 06 Okt 2021 16:10 WIB

Vaksin Nusantara Diklaim Potensial untuk Booster, Ini Alasan Tim Peneliti

Vidya Pinandhita - detikHealth
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (kanan) berbincang dengan anggota DPR Dewi Asmara saat akan mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (11/6/2020). Rapat yang juga diikuti Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy itu membahas penanggulangan defisit dana jaminan sosial BPJS Kesehatan dan perbaikan tata kelola sistem layanan kesehatan. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww. Eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Foto: ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA
Jakarta -

Vaksin Nusantara besutan eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto disebut berpotensi bakal menjadi booster vaksin COVID-19. Mengingat, vaksin COVID-19 yang ada kini, misalnya Pfizer berbasis mRNA, dikabarkan mengalami penurunan antibodi dalam waktu 7 bulan setelah disuntikkan.

"Kalau kita lihat lagi laporan terbaru, ternyata antibodi yang dihasilkan pasca vaksinasi termasuk yang menggunakan platform mRNA bikinan Pfizer juga setelah 7 bulan ternyata kadar antibodi spike-nya tidak terdeteksi karena memang mekanisme kerjanya berbeda," kata peneliti dari tim vaksin Nusantara, dr Daniel Tjen, SpS, dalam konferensi pers virtual, Rabu (6/10/2021).

Ia menjelaskan, vaksin Nusantara berbasis platform sel dendritik yang lebih banyak mengacu pada sel T memori. Hal inilah yang membuat pihaknya berharap, vaksin Nusantara berpotensi digunakan sebagai booster atau suntikan ketiga vaksin COVID-19.

Namun ia menegaskan, COVID-19 masih relatif baru sehingga vaksin-vaksin yang ada kini belum bisa dibandingkan dan ditentukan mana yang paling baik.

Kalau kita lihat lagi laporan terbaru, ternyata antibodi yang dihasilkan pasca vaksinasi termasuk yang menggunakan platform mRNA bikinan Pfizer juga setelah 7 bulan ternyata kadar antibodi spike-nya tidak terdeteksi karena memang mekanisme kerjanya berbeda.

"Pendekatan platform sel dendritik ini lebih banyak kita mengacu pada sel T-nya memorinya. Jadi besar harapan kita ini sekali lagi karena sifat sel dendritik imunoterapi itu untuk memperkuat imunitas maka kuat digunakan untuk menjadi vaksin booster apa pun," beber dr Daniel.

"Vaksin yang digunakan sebagai vaksin dasarnya apa pun, karena pendekatannya berbeda. Pada saat ini memang penelitian untuk menggabungkan lebih dari 1 platform vaksin. Hanya kita semua sangat sedikit tahu tentang Sars-COV-2," pungkasnya.



Simak Video "Menyoal Klaim DPR Terkait Jokowi Minta Vaksin Nusantara Jadi Booster"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)