Rabu, 06 Okt 2021 16:34 WIB

Ini Sebab Mikroplastik Galon Isi Ulang Lebih Tinggi

Yudistira Imandiar - detikHealth
Ilustrasi Galon Air Mineral Foto: shutterstock
Jakarta -

Hasil riset Laboratorium Kimia Anorganik Universitas Indonesia atas kontaminasi mikroplastik pada air minum kemasan plastik bentuk botol maupun galon sejak tahun 2018 menyatakan tidak ada air minum dalam kemasan yang beredar di Jakarta Raya terbebas dari partikel renik itu. Bahkan, bila sumber air di alam ikut jadi acuan hasilnya tetap sama.

Penelitian yang dipublikasikan pertama kali pada 23 September silam itu mendapati sumber air alam di seputaran Jakarta juga mengandung kontaminan mikroplastik meskipun dalam jumlah yang lebih kecil.

Penjelasan Agustino Zulys, Kepala Laboratorium sekaligus peneliti utama riset, saat presentasi laporan bertajuk 'Ancaman Mikroplastik dalam Galon Sekali Pakai' bersama mitranya Greenpeace Indonesia, menghadirkan konteks yang cukup terang soal itu.

Agus memaparkan mikroplastik adalah kontaminan yang mau tidak mau ada dalam air minum yang dikemas dalam wadah berbahan plastik. Ini terkait erat dengan sifat komponen utama polimer yang mudah luruh, menjadi partikel plastik sangat halus dalam ukuran mikrometer dan hanya bisa dilihat dengan bantuan perbesaran mikroskop. Faktor pemicunya banyak dan beragam, semisal kemasan mengalami gesekan, terpapar sinar matahari dalam waktu yang lama, dan sebagainya.

Nah, pertanyaannya, kenapa peneliti seperti lebih mencemaskan konsentrasi mikroplastik yang lebih besar pada galon isi ulang ketimbang galon sekali pakai?

Faktanya, menurut Agus, kontaminasi mikroplastik pada galon sekali pakai yang menjadi subjek utama penelitian, masih pada level yang rendah alias di bawah ambang batas berbahaya yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia, WHO. Ia merinci hasil uji sampel mendapati kontaminasi maksimal 5 miligram per liter, atau jauh di bawah ambang berbahaya 20 miligram versi WHO.

Namun pada air minum galon isi ulang, temuannya berbeda. Agus menegaskan memang belum ada riset spesifik soal ini, namun ia menyebut banyaknya galon isi ulang yang beredar di tengah masyarakat membuat kemungkinan kontaminasi mikroplastik yang lebih besar.

Dia sendiri tak memberi penjelasan yang detail soal ini. Namun, seperti jamak ditemui, selain didistribusikan dan digunakan berulang-ulang, galon isi ulang perlu serangkaian proses pembersihan agar bisa kembali dipasarkan sebagai galon air minum siap konsumsi. Inilah serangkaian indikasi yang menyiratkan kemungkinan peluruhan untaian-untaian polimer yang lebih banyak pada galon isi ulang, ketimbang pada galon sekali pakai yang notabene bisa langsung didaur ulang menjadi botol plastik baru.

Singkat kata, isu mikroplastik tidak semata-mata berkaitan dengan kemasan galon sekali pakai, yang kebetulan bahannya sama dengan kemasan botol plastik. Tapi, nampaknya ini lebih terkait dengan seluruh air minum yang dikemas dalam wadah berbahan plastik.

Pertanyaannya kemudian, apakah galon sekali pakai tak lebih baik dari galon isi ulang hanya karena galon isi ulang bisa digunakan kembali? Nyatanya, konsep daur ulang pun tidak terbatas pada 'bisa digunakan kembali' tapi mencakup 'bisa diproduksi kembali' menjadi produk baru yang sama atau produk baru yang berbeda.

Pada akhirnya, kita tidak bisa terlepas dari kontaminan mikroplastik karena bukan hanya penggunaan wadah plastik yang bisa memicu munculnya mikroplastik tapi juga bahkan sumber-sumber air yang ada di alam pun mengandung mikroplastik. Yang perlu kita lakukan menghadapi isu ini tampaknya adalah berusaha semaksimal mungkin agar kandungan kontaminan tersebut tetap berada di bawah ambang batas berbahaya yang ditetapkan pemerintah.

[Gambas:Video 20detik]



(akd/up)