Senin, 11 Okt 2021 21:27 WIB

Penjelasan WHO Pentingnya Penyintas COVID-19 Mendapat Vaksin

Jihaan Khoirunnisaa - detikHealth
Sejumlah pengungsi mengantre untuk mendapatkan vaksin yang diselenggarakan di GOR Bulungan, Jakarta, Kamis (7/10/2021). Pemprov DKI Jakarta berkolaborasi dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) DKI Jakarta dan UNHCR menyelenggarakan kegiatan vaksinasi Covid-19 untuk para Warga Negara Asing (WNA) pengungsi dan pencari suaka yang berdomisili di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan penyintas COVID-19 tetap mendapatkan vaksin. Ini dinilai penting karena berfungsi sebagai peningkat sistem kekebalan tubuh.

Kepala Ilmuwan WHO, Dr. Soumya Swaminathan mengatakan banyak penelitian menunjukkan apabila pasien mengalami infeksi yang sangat ringan atau tanpa gejala, maka kemungkinan akan membentuk tingkat antibodi yang rendah.

"Jadi, inilah mengapa kami tetap menyarankan bahwa meskipun Anda telah terinfeksi COVID, Anda harus melanjutkan dan mengambil vaksinasi saat tersedia untuk Anda, karena vaksin kemudian berfungsi sebagai peningkat sistem kekebalan tubuh," kata Soumya dikutip dari laman resmi covid19.go.id, Senin (11/10/2021).

Lebih jauh dia merinci 2 hal yang wajib diperhatikan saat seorang penyintas COVID-19 hendak melakukan vaksinasi, yaitu:

1. Waktu

Soumnya menjelaskan usai pulih dari COVID-19, Anda sebaiknya menunggu beberapa minggu. Namun terkait hal ini, ada perbedaan kebijakan antar negara. Beberapa negara merekomendasikan agar orang menunggu selama 3 bulan atau 6 bulan sampai setelah infeksi.

"Ini karena Anda memiliki antibodi alami yang akan membuat Anda terlindungi setidaknya selama itu," jelas Soum.

Di samping itu menurutnya masih banyak negara yang kekurangan stok vaksin COVID-19. Sehingga penyintas diminta menunggu selama 3 atau 6 bulan. Akan tetapi dari sudut pandang ilmiah dan biologis, Anda sebetulnya dapat mengambil vaksin segera setelah dinyatakan pulih sepenuhnya dari COVID-19.

2. Antibodi

Soumya menyebut terdapat perbedaan kondisi antibodi seseorang yang belum melakukan vaksin dan yang telah melakukan vaksin dosis lengkap. Ia mengatakan jenis kekebalan yang berkembang setelah infeksi alami bervariasi dari orang ke orang, sehingga hal ini membuatnya sangat sulit untuk diprediksi.

"Vaksin telah distandardisasi dalam hal dosis antigen yang diberikan, dan ini didasarkan pada banyak uji klinis yang telah dilakukan. Jadi ketika seseorang menerima vaksin, kita bisa cukup percaya diri dan memprediksi jenis respons kekebalan yang akan mereka dapatkan," paparnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan ada perbedaan utama antara kekebalan yang diinduksi infeksi alami dan kekebalan yang diinduksi vaksin.

"Ada penelitian yang sangat menarik yang sedang berlangsung sekarang untuk melihat respon imun ketika seseorang memiliki dosis vaksin setelah mengalami infeksi alami dan juga ketika dua jenis vaksin yang berbeda diberikan satu demi satu, sehingga disebut pendekatan mix and match," kata Soumya.

Oleh sebab itu, lanjut dia, para ilmuwan percaya jenis pendekatan hibrida ini sebenarnya dapat memberi respons kekebalan yang jauh lebih kuat daripada sekadar infeksi alami saja.

Lebih lanjut ia mengatakan semua vaksin yang beredar dan telah menerima daftar penggunaan darurat dari WHO bisa mencegah penyakit parah dan rawat inap dari semua varian virus SARS-CoV-2 yang ada. Meski demikian, ia mengingatkan agar protokol kesehatan tetap dilakukan, seperti memakai masker, menjaga jarak, menjaga kebersihan tangan, menghindari tempat-tempat ramai dan tertutup, dan lainnya.

"Jadi di mana pun Anda tinggal, adalah baik untuk mengambil tindakan pencegahan itu selain divaksinasi karena itulah yang akan menurunkan tingkat infeksi di masyarakat," pungkasnya.



Simak Video "Apakah Cek Antibodi Perlu Dilakukan untuk Sebelum dan Sesudah Vaksin?"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/up)