Selasa, 12 Okt 2021 18:31 WIB

Beda Penampakan Paru-paru Pasien COVID-19 Vs Perokok, Parahan Mana?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Beda penampakan paru-paru pasien covid-19 vs perokok Beda penampakan paru-paru pasien COVID-19 dan perokok. (Foto: Foto: Youtube/CBSDFW)
Jakarta -

Para ahli terus mendorong agar semakin banyak orang mendapat vaksinasi COVID-19 agar minimal bisa menghindari kasus infeksi parah. COVID-19 diketahui bisa meninggalkan efek jangka panjang atau long COVID pada para penyintas sehingga sejak awal cara yang terbaik adalah dengan menghindari infeksi.

Efek jangka panjang tersebut dijelaskan ahli karena virus memicu kerusakan pada berbagai organ tubuh. Sebagai contoh, pada paru-paru mungkin akan tersisa 'luka' yang membuat pasien kadang masih melaporkan keluhan meski sudah sembuh dari infeksi.

Seberapa parah kerusakan organ yang terjadi?

Asisten profesor di Texas Tech University Health Sciences Center, Dr Brittany Bankhead-Kendall, menjelaskan kondisi kesehatan paru-paru penyintas COVID-19 bahkan bisa lebih parah dari perokok. Ia mengimbau agar orang-orang tidak menyepelekan COVID-19 hanya dengan melihat fakta tingkat kesembuhan yang tinggi.

"Paru-paru pasien pasca-Covid bisa tampak lebih buruk dari kondisi terparah paru-paru perokok manapun yang pernah kami lihat. Paru-paru penyintas bisa kolaps, ada sumbatan bekuan darah, dan masalah napas pendek yang berlangsung terus-terusan," ungkap Brittany seperti dikutip dari CBSNews pada Oktober (12/10/2021).

Brittany memberi contoh dengan mengunggah foto rontgen paru-paru dari pasien yang sehat, terinfeksi COVID-19, dan perokok. Warna putih yang ada pada rontgen menunjukkan bagian paru-paru yang tersumbat berisi cairan atau memiliki jaringan parut.

Pada pasien dengan COVID-19, tampak lebih banyak bagian paru-paru yang berwarna putih meski dibandingkan dengan paru-paru perokok.

Ahli paru-paru dr Panagis Galiatstatos dari Johns Hopkins School of Medicine turut berkomentar seberapa buruk kondisi paru-paru tentu tergantung dari seberapa parah infeksi yang dialami pasien. Pada pasien yang hanya mengalami gejala ringan atau tanpa gejala kemungkinan kondisi paru-parunya tetap lebih baik daripada paru-paru perokok.

"Kedua rontgen paru-paru pasien COVID-19 dan perokok sebenarnya sama-sama buruk. Gejala yang ditimbulkan sama, hanya saja yang satu terjadi lebih cepat," kata dr Panagis.

"Jadi bagi saya, orang yang terinfeksi COVID-19 parah seperti mengalami apa yang akan dihadapi perokok setelah bertahun-tahun...," pungkasnya.




Simak Video "Wujud CT Scan Toraks 0-14 Hari Saat Terinfeksi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)