Jumat, 08 Okt 2021 19:00 WIB

Dokter Ungkap Kondisi Paru Pasien COVID-19 Gejala Berat, Ini Penampakannya

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Portrait of a female doctor Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Pasien COVID-19 dengan gejala berat umumnya akan mengalami sakit yang cukup parah di paru-paru. Saturasi oksigennya bisa berada di bawah 93 persen, atau frekuensi napasnya lebih dari 30 kali per menit.

"Atau bisa juga kita lihat secara kasat mata itu ada di stres pernapasan. Stres pernapasan di sini adalah napasnya sudah ngos-ngosan gitu, jadi kesulitan dalam bernapas," jelas dr Jerry Nasarudin, SpPD, dokter spesialis penyakit dalam dari RSUP Fatmawati pada beberapa waktu lalu.

Terkait hal ini, dokter paru dari RSUP Persahabatan, dr Mia Elhidsi, SpP, menjelaskan bagaimana kondisi paru-paru setelah mengalami infeksi COVID-19 dengan kategori berat.

Mengenal paru pasca COVID berat.Mengenal paru pasca COVID berat. Foto: Webinar Awam 'Hidup Berkualitas selama Pandemi COVID-19' oleh Program Studi S3 Ilmu Kedokteran FKUI

Dalam gambar di atas, ada beberapa foto rontgen paru-paru pasien COVID-19 dengan gejala berat. Berawal dari foto A dan B, dr Mia menjelaskan warna bercak putih atau abu-abu muda dalam foto tersebut adalah peradangan yang disebabkan oleh COVID-19.

"Kemudian berjalannya waktu jadi C dan D. Kita lihat warna abu-abunya sudah berkurang sedikit. Tapi, kita lihat di sini ada garis-garis putih agak banyak. Nah ini yang disebut fibrosis paru atau parunya kaku," kata dr Mia dalam webinar awam COVID-19 dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jumat (8/10/2021).

Ketika menarik napas, paru-paru akan merenggang. Kemudian ketika menghembuskan napas, paru-paru akan mengempis. Namun, apabila terdapat fibrosis paru atau jaringan parut, fungsi organ tersebut menjadi terganggu.

"Fibrosis ini namanya jaringan parut, maka dia kesulitan untuk mengambil oksigen, mengambil udara, mengeluarkan udara, termasuk juga udara yang masuk ke paru nggak bisa pindah ke pembuluh darah," jelas dr Mia.

"Jadi ini pasca COVID berat biasanya mungkin sekali dapat terjadi jaringan parut. Kadang dia juga masih merasa sesak, mudah lelah," sambungnya.

Lebih lanjut, kata dr Mia, apabila sang pasien mengecek saturasi oksigennya menggunakan oximeter, kemungkinan kadar oksigennya akan lebih rendah dibandingkan dengan paru-paru yang normal.

"Tapi, dengan berjalannya waktu sebagian besar insyaAllah jaringan parutnya akan menjadi normal kembali, seperti yang E dan F," tuturnya.



Simak Video "Perbandingan Paru-paru Pasien COVID-19 yang Divaksin dan Belum"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/kna)