Rabu, 13 Okt 2021 18:52 WIB

Varian Delta Masih Jadi Raja, RI Juga Waspada Varian Mu yang Menyebar di Jepang

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Jakarta -

Tren kasus COVID-19 di Indonesia terus mengalami penurunan. Berdasarkan hasil analisa mingguan Kementerian Kesehatan, menunjukkan penurunan kasus telah berlangsung selama kurang lebih dua bulan terakhir.

Dari analisa tersebut menunjukkan bahwa jumlah kasus mingguan turun sebanyak 23 persen dibandingkan pada minggu sebelumnya. Sedangkan jumlah kematian juga turun sebanyak 32 persen.

Meski begitu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan Indonesia masih didominasi oleh varian Delta. Varian Corona ini disebut lebih menular dan bisa menyebabkan keparahan pada pasien COVID-19.

"Kita terus memantau varian-varian virus COVID-19 yang mungkin memiliki dampak negatif terhadap penularan, efek vaksin, pengobatan, dan juga diagnosis. Terutama negara-negara yang bertetangga dengan kita dan negara-negara frekuensi yang memiliki mobilitas dari dan ke negara kita," jelas dr Nadia dalam siaran pers PPKM, Rabu (13/10/2021).

"Kita melihat varian Delta masih menjadi varian yg dominan, yang dilanjutkan dengan varian alpha, dimana keduanya memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi," lanjutnya.

Namun, sampai saat ini varian baru Corona yaitu varian Mu masih belum terdeteksi di Indonesia. Meski begitu, dr Nadia menegaskan harus tetap waspada sebab varian tersebut sudah menyebar ke negara lain, seperti Jepang, Inggris dan Amerika Serikat.

Untuk mengatasinya, pemerintah Indonesia secara proaktif terus melakukan strategi demi melacak keberadaan varian baru Corona. Ini dilakukan demi mencegah lonjakan gelombang ketiga Corona.

"Kami terus meningkatkan kapasitas laboratorium untuk whole genome sequencing dan serosurveillance secara rutin dengan sampel dari provinsi, kabupaten, dan kota yang ada di seluruh Indonesia. Kunci masuknya varian baru adalah dengan penguatan testing dan karantina di pintu masuk negara," tuturnya.

(sao/naf)