Kamis, 14 Okt 2021 08:30 WIB

Round Up

Kata Psikolog soal Trauma Kakek Suhud Usai Dimarahi Baim Wong

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Jakarta -

Belakangan ini, permasalahan antara Baim Wong dan Kakek Suhud menjadi sorotan publik. Sang kakek merasa dirinya trauma setelah dimarahi oleh Baim Wong karena disebut 'mengemis', padahal ia hanya ingin menawarkan barang dagangannya.

"Saya jadi trauma, kok gini, kok gini, nggak biasanya," ucap kakek tersebut dalam wawancara bersama Nikita Mirzani, dikutip dari detikHot.

Melalui akun instagram pribadinya, Baim Wong sudah menyampaikan permintaan maafnya kepada Kakek Suhud karena dinilai telah bersikap tidak sopan.

Terkait hal ini, psikolog klinis Ohana Space, Fajrin Trisnaramawati, mengatakan seseorang tidak bisa sembarangan menyebut dirinya tengah mengalami trauma. Pasalnya, diagnosis ini harus melewati pemeriksaan ahli atau profesional, seperti psikolog atau psikiater.

"Tetapi, ketika seseorang dimarahi atau dibentak akan membuat perasaan penerimanya menjadi tidak nyaman dan memiliki kesan yang kurang baik," ungkap Fajrin kepada detikcom Rabu (13/10/2021).

"Kalau bisa dianalogikan, ketika kita mendapatkan emosi yang positif kita memiliki poin + 1, tapi ketika mendapatkan emosi yang negatif poin kita jadi - 4 terhadap orang tersebut," sambungnya.

Fajrin memahami seseorang akan mudah merasa kecewa atau memiliki emosi negatif ketika mendapat perlakuan tidak mengenakkan. Apalagi Baim Wong dan Kakek Suhud tidak memiliki relasi apapun sebelumnya.

Menurut Fajrin, apabila kita sedang menghadapi kondisi serupa, atau tengah menghadapi seseorang yang tengah meminta bantuan dengan terkesan memaksa, ada baiknya untuk sebisa mungkin tenangkan diri agar ekspresi yang keluar tidak menjadi emosi negatif.

"Pahami dulu apa yang membuat kita menjadi tidak nyaman, memunculkan emosi yang negatif ketika ada seseorang yang minta pertolongan dengan cara memaksa," ungkap Fajrin.

"Kemudian, tenangkan diri terlebih dahulu, baru setelah itu komunikasikan dengan cara komunikasi yang asertif. Komunikasi asertif ini diperlukan agar informasi atau pesan yang ingin disampaikan ke lawan bicara dapat diterima dengan baik serta memahami situasi dan kondisi kita," sambung dia.

(ryh/up)