Jumat, 29 Okt 2021 11:35 WIB

Heboh Pekerja WHO Lakukan Pelecehan Seksual di Kongo, Korban Buka Suara

Ayunda Septiani - detikHealth
Colour backlit image of the silhouette of a woman with her hands on her head in a gesture of despair. The silhouette is distorted, and the arms elongated, giving an alien-like quality. The image is sinister and foreboding, with an element of horror. It is as if the woman is trying to escape from behind the glass. Horizontal image with copy space. Foto: iStock
Jakarta -

Lebih dari 80 pekerja bantuan termasuk anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terlibat dalam pelecehan dan eksploitasi seksual selama krisis Ebola di Republik Demokratik Kongo.

Penyelidikan tersebut didorong oleh penyelidikan pada tahun lalu oleh Thomson Reuters Foundation dan The New Humanitarian di mana lebih dari 50 wanita pekerja bantuan dari WHO dan badan amal lainnya menuntut seks dengan diberikan imbalan pekerjaan antara 2018 hingga 2020.

Dalam laporannya, komisi menemukan bahwa setidaknya 21 dari 83 tersangka pelaku dipekerjakan oleh WHO, dan adanya pelanggaran termasuk sembilan tuduhan pemerkosaan, dilakukan oleh staf nasional dan internasional.

"Tim peninjau telah menetapkan bahwa para korban yang diduga dijanjikan pekerjaan sebagai imbalan hubungan seksual atau untuk mempertahankan pekerjaan mereka," kata anggota komisi Malick Coulibaly dalam konferensi pers, dikutip dari laman Reuters.

Tak hanya itu, banyak dari pekerja laki-laki tersebut yang menolak menggunakan kondom dan ada 29 perempuan hamil dan dipaksa untuk digugurkan kandungannya oleh pelaku.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut bahwa ia berjanji tidak menoleransi atas kasus pelecehan seksual tersebut.

Seorang gadis berumur 14 tahun berinisial J, dalam laporan tersebut, mengatakan kepada komisi bahwa dia tengah menjual kartu isi ulang pulsa di pinggir jalan pada April 2019 lalu di Mangina. Tiba-tiba seorang pengemudi WHO menawarkan tumpangan untuk pulang.

Namun, gadis tersebut malah dibawa ke sebuah hotel di mana dia mengatakan anggota dari WHO tersebut telah memperkosanya dan kemudian melahirkan anaknya.

Beberapa wanita yang sudah bekerja mengatakan kepada tim peninjau bahwa mereka terus dilecehkan secara seksual oleh pria dalam posisi pengawas dimana mereka memaksa berhubungan seks untuk mempertahankan pekerjaan mereka, dan mendapatkan bayaran atau mendapatkan posisi yang lebih baik.

Tak hanya itu, beberapa wanita mengatakan mereka telah diberhentikan karena menolak berhubungan seks, sementara yang lain tidak mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan bahkan setelah menyetujui.

Simak video 'Langkah WHO Usai Stafnya Dilaporkan Lakukan Pelecehan di Kongo':

[Gambas:Video 20detik]



(ayd/kna)