Rabu, 03 Nov 2021 10:30 WIB

Diungkap, Studi Dunia Nyata Vaksin COVID-19 Johnson and Johnson Sekali Suntik

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Vaksin Johnson and Johnson diperkirakan masuk Indonesia bulan depan. Kehadiran vaksin satu kali suntik ini membuat vaksin COVID-19 kian beragam untuk masyarakat Ilustrasi vaksin Johnson and Johnson. (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Studi dunia nyata vaksin Johnson and Johnson menunjukkan efikasi vaksin COVID-19 mereka cukup tinggi. Berdasarkan data yang dimuat di jurnal JAMA Network Open per Selasa (2/11/2021) vaksin Johnson and Johnson sekali suntik terbukti 73,6 persen efektif melawan COVID-19.

Dikutip dari CNN, studi ini mengevaluasi pasien-pasien di Mayo Clinic Health System antara Februari dan Juli tahun per 2021. Para peneliti menganalisis hampir 9 ribu pasien yang divaksinasi Johnson and Johnson, dan hampir 89 ribu pasien yang tidak divaksinasi.

Mereka melihat secara khusus, berapa banyak pasien yang terinfeksi COVID-19 meski sudah divaksinasi.

Hasil studi

Di antara 8.889 pasien yang divaksinasi COVID-19 Janssen, 60 orang dinyatakan positif Corona. Sementara dari 88.898 pasien yang tidak divaksinasi Johnson and Johnson, ada 2.236 positif COVID-19.

Para peneliti menyimpulkan bahwa vaksin Johnson and Johnson 73,6 persen efektif, dan menyebabkan risiko infeksi COVID-19 berkurang hingga 3,73 kali lipat. Temuan ini sejalan dengan data uji klinis yang menemukan vaksin Johnson and Johnson efektif 66,9 persen terhadap gejala COVID-19 sedang hingga berat.

Penelitian baru ini juga menunjukkan kasus parah COVID-19 bisa berkurang signifikan, terutama kasus rawat inap. Namun, terlalu sedikit orang yang terinfeksi COVID-19 di antara kelompok yang divaksinasi untuk menarik kesimpulan kuat tentang seberapa baik vaksin mencegah kematian.

Dr Mohammad Sajadi dari Institut Virologi Manusia di Fakultas Kedokteran Universitas Maryland, berpendapat bahwa temuan tersebut adalah bagian dari kumpulan pekerjaan yang menunjukkan 'ruang untuk perbaikan' vaksin J&J.

"Yang semakin jelas seiring waktu adalah bahwa vaksin dosis tunggal vaksin (Johnson & Johnson COVID-19) tampaknya lebih rendah daripada vaksin mRNA dalam hal (efektivitas vaksin)," tulis Sajadi, membandingkan vaksin J&J dengan jenis vaksin COVID-19 teknologi berbeda yang dibuat Pfizer/BioNTech dan Moderna.

Sajadi mencatat bahwa kelompok peneliti yang sama yang melakukan studi J&J terbaru ini sebelumnya telah melihat efektivitas vaksin dari vaksin Pfizer dan Moderna COVID-19, yang memiliki kemanjuran 'jauh lebih tinggi'.

Dalam penelitian tersebut, efektivitas vaksin Pfizer di dunia nyata adalah 86,1 persen. Sementara Moderna adalah 93,3 persen.

Pada bulan September, sebuah studi head-to-head dari ketiga vaksin tersebut menemukan vaksin Moderna sedikit lebih efektif daripada Pfizer dalam penggunaan kehidupan nyata, dalam kasus mencegah rawat inap di rumah sakit.

Vaksin Moderna memberikan perlindungan 93 persen pada kasus rawat inap, dan vaksin Pfizer 88 persen efektif. Sajadi mengatakan peningkatan efektivitas vaksin Johnson and Johnson mungkin bisa dibantu dengan dosis kedua atau booster memakai vaksin COVID-19 mRNA.



Simak Video "Kata Satgas soal Vaksin Covid-19 Umat Islam Akan Diganti yang Halal"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)