ADVERTISEMENT

Senin, 08 Nov 2021 10:01 WIB

Tak Mau Ketinggalan, China Juga Bergegas Bikin Obat COVID-19

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Otoritas China bersiap memeriksa ratusan ribu sampel darah dari bank darah yang ada di kota Wuhan sebagai bagian dari penyelidikan asal-usul virus Corona (COVID-19). China bergegas bikin obat COVID-19 (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Perusahaan farmasi asal China disebut telah membuat kemajuan dalam penelitian dan pengembangan obat-obatan COVID-19. Otoritas China mengatakan hal ini akan membantu dunia segera mengakhiri pandemi COVID-19.

Komentar ini muncul setelah obat COVID-19 yang diproduksi oleh Pfizer yang berbasis di AS dilaporkan mampu memangkas angka rawat inap dan kematian di antara pasien berisiko tinggi. Efikasinya bahkan mencapai 89 persen.

Hanya saja, kata Zhuang Shilihe, ahli imunologi yang berbasis di Guangzhou, ada kendala terkait obat COVID-19 produksi Pfizer ini yakni harganya yang mahal.

"Aksesibilitas lebih penting daripada efektivitas vaksin dan obat-obatan itu sendiri dalam memerangi pandemi COVID-19," kata Zhuang, merujuk pada kesenjangan besar dalam tingkat vaksinasi antara negara maju dan berkembang kepada Global Times.

Seorang ahli vaksin berbasis di Shanghai mengatakan hal inilah yang menjadikan China memainkan peran penting, mengingat kapasitas produksinya yang kuat dan kemurahan hatinya dalam membantu negara-negara berkembang untuk meningkatkan kapasitas medis dan produksi mereka sendiri.

Beberapa perusahaan farmasi China juga bergegas membuat obat COVID-19. China National Biotec Group, anak perusahaan Sinopharm, mengatakan obatnya yang diproses dari globulin imun spesifik telah disetujui oleh regulator medis di China dan Uni Emirat Arab dan sedang dalam uji klinis.

Brii Biosciences, sebuah perusahaan yang memiliki kantor pusat ganda di China dan AS, telah mengajukan permohonan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan AS untuk otorisasi penggunaan darurat untuk terapi kombinasi antibodi monoklonal penetralisir SARS-CoV-2 BRII-196/BRII-198, yang dapat mengurangi tingkat rawat inap dan kematian sebesar 78 persen di antara pasien COVID-19 yang berisiko tinggi.

Terlepas dari kedatangan obat antivirus baru yang secara dramatis dapat mengurangi tingkat rawat inap dan kematian, para ahli mengatakan bahwa vaksin masih merupakan cara paling efektif untuk melawan COVID-19 dan tidak dapat digantikan oleh obat-obatan.

"Vaksinasi dan perawatan pendukung tetap menjadi cara utama untuk memerangi COVID-19, sementara obat-obatan oral hanyalah 'lapisan gula pada kue' saat ini," kata Tao.



Simak Video "BPOM Beri Izin Paxlovid Jadi Obat Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT