Selasa, 09 Nov 2021 13:45 WIB

Pastikan Tak Ada Kematian Akibat Vaksin Corona, Ini Penjelasan Komnas KIPI

Ayunda Septiani - detikHealth
Scientists are done research on vaccine in laboratory with test tubes on Covid19 Coronavirus type for discover vaccine. Foto ilustrasi. (Foto: Getty Images/iStockphoto/chayakorn lotongkum)
Jakarta -

Beredar informasi 30 orang meninggal usai vaksin COVID-19. Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Prof Hindra Irawan Satari mematikan informasi tersebut tidak benar.

Dijelaskan, ada 27 kasus kematian diduga akibat vaksinasi dengan Sinovac. Namun setelah diinvestigasi, mencakup pemeriksaan, perawatan, rontgen, dan hasil laboratorium, tidak ditemukan keterkaitan dengan vaksin.

"10 kasus akibat terinfeksi COVID-19, 14 orang karena penyakit jantung dan pembuluh darah, 1 orang karena gangguan fungsi ginjal secara mendadak dan 2 orang karena diabetes mellitus dan hipertensi tidak terkontrol," kata Prof Hindra, dikutip dari covid19.go.id.

Sementara itu, 3 kasus diduga meninggal akibat vaksinasi AstraZeneca juga tidak terbukti ada keterkaitan. Pada ketiga kasus tersebut, penyebabnya adalah penyakit lain.

Sementara itu, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) baru-baru ini membuat laporan terbaru mengenai efek samping pasca vaksinasi COVID-19. Dalam laporan terbarunya, meski vaksin aman dan efektif, sebagian orang akan menemukan efek samping dari vaksin COVID-19 namun akan hilang dalam beberapa hari setelahnya.

Efek samping yang mungkin terjadi telah dilaporkan ke bagian eksternal Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS). VAERS menerima laporan tentang efek samping apapun setelah vaksinasi apa pun.

"Laporan efek samping kepada VAERS setelah vaksinasi, termasuk kematian, tidak selalu berarti bahwa vaksin menyebabkan masalah kesehatan. Efek samping yang serius setelah vaksinasi COVID-19 jarang terjadi tetapi bisa saja terjadi," jelas CDC.

1. Anafilaksis

Anafilaksis merupakan reaksi alergi berat yang berujung pada kematian apabila terlambat ditangani secara medis. Hal ini juga jarang terjadi setelah vaksin COVID-19. Di Amerika Serikat sendiri ditemukan kasus 2 hingga 5 orang per satu juta yang divaksin.

2. Trombosis dengan sindrom trombositopenia (TTS)

Trombosis dengan TTS setelah vaksinasi COVID-19 Johnson & Johnson Janssen (J&J) jarang terjadi. Per 27 Oktober 2021, lebih dari 15,5 juta dosis Vaksin J&J/Janssen COVID-19 telah diberikan di Amerika Serikat.

CDC dan FDA mengidentifikasi ada 48 laporan yang dikonfirmasi tentang orang-orang yang mendapatkan Vaksin J&J/Janssen COVID-19 dan kemudian mengembangkan TTS. Wanita berusia 50 tahun ke bawah harus waspada terhadap risiko ini meski jarang ditemukan.

3. Guillain-Barre Syndrome (GBS)

Selain itu, CDC dan FDA sedang memantau adanya laporan Guillain-Barre Syndrome (GBS) pada orang yang telah menerima Vaksin J&J/Janssen COVID-19. GBS merupakan kelainan langka saat sistem kekebalan tubuh merusak sel-sel saraf, dan menyebabkan kelemahan otot dan terkadang kelumpuhan.

Kebanyakan orang pulih sepenuhnya dari GBS, tetapi beberapa mengalami kerusakan saraf permanen. Setelah lebih dari 15,2 juta dosis Vaksin J&J/Janssen COVID-19 diberikan, ada sekitar 233 laporan awal GBS yang diidentifikasi di VAERS per 13 Oktober 2021.

Kasus-kasus ini sebagian besar telah dilaporkan sekitar 2 minggu setelah vaksinasi dan sebagian besar pada pria, berusia 50 tahun ke atas.

Teruskan untuk membaca efek samping lainnya yang ditemukan di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2