Minggu, 14 Nov 2021 23:01 WIB

Round Up

Menkes Buka-bukaan Potensi Gelombang Ketiga COVID-19 di Indonesia

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Jakarta -

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin buka-bukaan soal risiko gelombang ketiga COVID-19 di Indonesia. Berkaca pada banyak negara dengan cakupan vaksinasi tinggi, lonjakan kasus tetap terjadi saat diserang varian baru Corona.

"Jadi kita lihat, Jepang sempat naik gelombang ketiga, Singapura naik, Malaysia naik, yang di Eropa itu terjadi, di Amerika Serikat (AS), Israel dan UK," ujar Budi, dikutip dari CNBC, Minggu (14/11/2021).

Menurut pria yang akrab disapa BGS tersebut, pemicu utama kenaikan kasus COVID-19 ialah varian Delta dan mutasi-mutasinya. Teranyar, subvarian Delta Plus AY.4.2 juga memicu peningkatan kasus di Inggris.

"Untuk ilustrasi, ini kayak preman. Jadi kalau preman masuk ke suatu daerah, misalnya Tanah Abang, ada satu preman, tapi ada preman lain lebih kuat dari dia, kalah preman yang lama. Gitu ya. Ini di virus ada kayak begitunya," beber dia.

"Jadi memang preman Delta ini relatif lebih dominan, lebih powerful, lebih kuat, dibandingkan preman-preman virus yang lain. Sehingga setiap dia masuk, naik," lanjutnya.

Varian Delta yang kini menyerang banyak negara disebut Budi adalah gambaran saat Indonesia menghadapi amukan COVID-19 delta di Juli lalu. Kondisi serupa terjadi di banyak negara saat dihadang gelombang COVID-19 varian Delta.

Indonesia sendiri memiliki 25 mutasi atau turunan varian Delta yang didominasi AY.23. Subvarian AY.23 juga menyebar ke banyak negara termasuk Singapura.

"Jadi key (kunci) nomor satu untuk mencegah gelombang ketiga, jangan sampai kemasukan varian baru yang memiliki potensi lebih kuat dari varian lama," katanya.

Selanjutnya
Halaman
1 2