ADVERTISEMENT

Rabu, 17 Nov 2021 13:00 WIB

Max Sopacua Punya Penyakit Paru dan Sempat Operasi Jantung, Adakah Kaitannya?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Jakarta -

Politikus senior dan tokoh pendiri Partai Demokrat Max Sopacua meninggal dunia, Rabu (17/11/2021). Ia meninggal dunia akibat sakit paru-paru yang cukup berat dan diketahui sempat menjalani operasi jantung pada 2020. Pasca operasi tersebut, kondisi Max disebut terus-menerus menurun.

Di samping itu, dokter spesialis paru, dr Susanthy Djajalaksana, SpP(K), FISR, dalam diskusi daring oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), menjelaskan penyakit jantung memang kerap berkaitan erat dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Pasalnya, kedua penyakit tersebut kerap dipicu oleh penyebab yang sama, seperti kebiasaan merokok.

"Baik PPOK maupun jantung, itu salah satu yang menyebabkan adalah rokok. Jadi rokoknya ini sebetulnya yang menyebabkan, atau polutan-polutan, itu yang menyebabkan sampai terjadi PPOK," terangnya dalam konferensi pers PDPI terkait Peringatan Hari PPOK Sedunia (World COPD Day), Rabu (17/11/2021).

"Kalau orang sudah kena PPOK memang untuk dibawanya PPOK tetap pasien ini kalau tidak berniat dengan rutin juga mencegah semua yang bisa dihindari dan sebagainya, (misal) pengobatan tidak baik, gizi tidak baik juga, dia akan jatuh ke risikonya akan ke gagal jantung. Jadi dari pasien PPOK risikonya akan kena gagal jantung," sambung dr Santhy.

Walhasil, pasien yang baru pertama kali berkonsultasi atau akan menjalani pengobatan PPOK harus dipastikan dulu apakah kondisinya PPOK atau penyakit jantung.

"Tanya jawab bisa mengarahkan kita 60-70 persen untuk menduga ini PPOK atau jantung. Tapi masih 30-40 persen untuk menggantungkan kepastian diagnosis dengan pemeriksaan penunjang lainnya," sambungnya.

Terakhir ia menjelaskan, dalam menangani pasien PPOK, perlu diketahui apakah ada faktor risiko terus-menerus terkait penyakit jantung. Misalnya pasien memang sudah didiagnosis sakit jantung, memiliki riwayat hipertensi, infeksi berulang, atau disertai kebiasaan merokok.

"Itu pun bisa menjadi lebih rentan. Dua-duanya memang situasi yang tidak nyaman, sinergi dari jantung lebih rentan PPOK apabila sekali lagi, lifestyle-nya tidak dihindari yang tidak baik," pungkas dr Santhy.

(vyp/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT