Rabu, 17 Nov 2021 17:40 WIB

Jumlah Kasus Melandai, Indonesia Sudah 'OTW' Bebas COVID-19?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Jakarta -

Pakar menyebut bahwa menurunnya kasus COVID-19 di Indonesia saat ini disebabkan imunitas kelompok dari vaksin maupun imunitas alami dari riwayat infeksi. Lantas, kapan Indonesia bebas dari COVID-19?

"Kalau kita lihat pengalaman kita pada saat badai COVID Juli 2021, orang yang terinfeksi COVID-19 itu sudah lebih dari 50 persen, bahkan mungkin saya duga 60 persen orang yang terineksi COVID pada saat bulan Juli," terang pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono dalam diskusi daring, Rabu (17/11/2021).

"Orang imunisasi sekarang sudah mencapai 30 persen. Hitung-hitungannya kalau pun overlapping 70 persen sekarang kita sudah herd immunity. Artinya tidak kebal ya, orang yang punya kekebalan atau antibodi di tubuh kita maka orang itu sudah 70 persen lebih orang di Indonesia baik karena terinfeksi atau vaksinasi," sambungnya.

Miko menjelaskan kondisi itulah yang menyebabkan banyak kasus COVID-19 di Indonesia kini bergejala ringan, bahkan tanpa gejala. Menurutnya, kasus-kasus tersebut perlu dihitung secara jelas untuk menentukan apakah Indonesia sudah bebas dari wabah COVID-19.

Pasalnya, Miko menyebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan kondisi bebas dari wabah tersebut tercapai jika kasus positif mencapai 10 per sejuta penduduk, atau 1 per 100 ribu.

Namun ia menegaskan untuk mencapai kondisi tersebut, protokol kesehatan harus tetap dijalankan secara ketat. Mengingat di Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa kini, kasus COVID-19 kembali meningkat akibat euforia.

"Catatannya adalah, kapan kita normal? Kalau wabahnya sudah selesai dan kemudian kalau kita sudah eradikasi. Karena kita eradikasi ini masih butuh lama, jadi baru selesai wabahnya," jelas Miko.

"Kalau wabahnya itu pada insiden yang 10 per satu juta penduduk maka itu meurut saya potensi masih besar kalau semua orang berkerumun banyak sekali, tidak pakai masker dan itu tebukti di negara Eropa sekarang meningkat lagi," pungkasnya.

(vyp/up)