Kamis, 18 Nov 2021 08:30 WIB

Singapura Tak Setujui Penggunaan Lianhua Qingwen Sebagai 'Obat COVID-19'

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Close-up red and black Medicine Capsules in Blister Packs Singapura tidak menyetujui penggunaan Lianhua Qingwen sebagai 'obat COVID-19'. (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Supersmario)
Jakarta -

Otoritas Ilmu Kesehatan (HSA) Singapura tidak menyetujui penggunaan obat China, Lianhua Qingwen, sebagai obat COVID-19, sebagaimana klaim yang beredar lewat grup chat Telegram. Pihak HSA mengatakan selama ini obat tersebut hanya digunakan untuk meredakan gejala pilek dan flu.

"Beberapa produk Lianhua Qingwen terdaftar sebagai obat milik China di Singapura untuk meredakan gejala pilek dan flu. HSA menyetujuinya berdasarkan dokumentasi penggunaan bahan-bahan yang ada dalam produk," jelas pihak HSA yang dikutip dari Channel News Asia, Kamis (18/11/2021).

"Sampai saat ini, tidak ada bukti ilmiah dari uji klinis acak yang menunjukkan bahwa produk herbal apa pun, termasuk produk Lianhua Qingwen, dapat digunakan untuk mencegah atau mengobati COVID-19," tegasnya.

Menurut HSA, semua obat herbal untuk pilek dan flu biasa hanya boleh digunakan untuk mengatasi gejala, seperti sakit kepala, pilek atau hidung tersumbat, sakit tenggorokan, dan batuk.

Untuk itu, HSA menyarankan agar masyarakat tidak langsung percaya dan berhenti menyebarkan klaim yang tidak berdasar seperti ini.

"Kami sangat menyarankan masyarakat untuk tidak menjadi korban klaim atau menyebarkan desas-desus yang tidak berdasar bahwa produk herbal ini bisa digunakan untuk mencegah atau mengobati COVID-19," jelasnya.

Semua produk yang diklaim dapat mengobati COVID-19 dan dipasok di Singapura harus diserahkan lebih dulu ke HSA. Setelah itu, akan dilakukan uji klinis untuk mengetahui apakah produk tersebut aman dan efektif untuk melawan COVID-19.

"Dealer dan seller diingatkan untuk tidak membuat klaim palsu atau menyesatkan bahwa produk yang mereka jual dapat mencegah, melindungi, atau mengobati penyakit seperti COVID-19," kata HSA.

Jika terjadi pelanggaran semacam itu, akan dijatuhi hukuman hingga dua tahun penjara, denda hingga 5.000 dolar singapura atau sekitar 52 juta rupiah, ataupun keduanya.



Simak Video "Progres 15 Penelitian Obat Herbal Sebagai Tambahan Terapi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)