Jumat, 19 Nov 2021 08:30 WIB

RI Mulai Uji Vaksin Sinovac untuk Booster di Awal 2022

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Anggota kepolisian berjaga di dekat Envirotainer berisi bahan baku vaksin COVID-19 Sinovac saat tiba di Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Selasa (25/5/2021). Sedikitnya 8 juta dosis dalam bentuk bulk vaksin Sinovac pada tahap ke-13 tersebut tiba di Bio Farma untuk diproses dan didistribusikan guna mempercepat rencana vaksinasi sedikitnya 70 persen penduduk atau sekitar 181,5 juta penduduk Indonesia untuk mempercepat kekebalan komunal terhadap COVID-19. ANTARA FOTO/Novrian Arbi/rwa. Bio Farma uji vaksin Sinovac. (Foto: ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBI)
Jakarta -

PT Bio Farma (Persero) menyebut vaksin Sinovac akan menjadi salah satu jenis vaksin yang diberikan sebagai booster atau dosis ketiga pada awal 2022 nanti. Namun, sebelumnya harus dilakukan uji klinik dengan menggandeng perusahaan farmasi asal China, Sinovac.

Menurut Kepala Bagian Operasional Pelayanan PT Bio Farma dr Erwin Setiawan, uji klinik ini dilakukan untuk menentukan kadar efikasi Sinovac jika diberikan sebagai vaksin booster dalam memberikan proteksi tambahan terhadap imun tubuh.

"Terkait booster memang baru akan dilakukan (uji klinik) di Januari 2022. Kita akan kerja sama dengan Sinovac untuk melakukan studi efikasi dosis booster, paling cepat tahun depan dilaksanakan," kata Erwin dalam webinar daring, Kamis (18/11/2021).

Meski begitu, pihak Sinovac sendiri sebelumnya sudah melakukan uji klinik terhadap vaksin ini sebagai booster di China. Hasilnya, ternyata cukup baik, karena pemberian vaksin booster ini berdampak pada peningkatan imunitas yang cukup tinggi dalam melawan virus Corona.

Selain Sinovac, Erwin mengatakan pihaknya juga tengah bekerjasama dengan Sinopharm untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Jika pemberian vaksin booster Sinovac dan Sinopharm sudah mendapat persetujuan, ketersediaan vaksin Corona tidak akan terhambat.

"Rencana vaksinasi booster, kita akan mengoptimalkan kerjasama dengan Sinovac untuk meningkatkan kapasitas produksi yang sudah kita miliki," ujarnya.

Namun, Erwin sampai saat ini mengaku belum bisa memastikan soal tarif untuk vaksin booster ini. Ia mengungkapkan pemerintah saat ini masih menghitung perkiraan harga bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Seperti yang diketahui, pemberian vaksin booster ini tidak akan sepenuhnya diberikan secara gratis. Nantinya, pemerintah hanya akan menanggung biaya vaksin COVID-19 warga yang terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan, selebihnya harus membayar untuk mendapat vaksin booster.

"Sebagai referensi, kemarin ini vaksin yang berbayar yang digunakan vaksin Gotong Royong itu kurang lebih harganya sekitar 188 ribu rupiah kalau tidak salah, dan juga dasar layanan 177 ribu rupiah. Itu mungkin referensi saat ini untuk vaksin berbayar yang ditujukan untuk badan usaha," jelasnya.



Simak Video "Pemerintah Minta Produsen Vaksin Covid-19 Penuhi Target Pengiriman"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)