Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) memberikan izin penggunaan darurat (EUA) vaksin Covovax untuk usia 18 tahun ke atas. Efikasi vaksin COVID-19 besutan Serum Institute India (SII) ini mencapai 90 persen untuk usia 18 tahun ke atas, sementara pada lansia berkisar 88 persen.
Dikutip dari Reuters, India siap mengirimkan 20 juta dosis vaksin Covovax ke Indonesia, targetnya bulan Desember. Banyak yang kerap mengira vaksin Covovax sama seperti vaksin Novavax yang diproduksi di AS, benarkah seperti itu?
Beda nama merek dan tempat produksi
Kepala BPOM RI Penny K Lukito beberapa waktu lalu menjelaskan kedua vaksin COVID-19 tersebut memiliki beberapa perbedaan. Vaksin Novovax yang dibuat di India diberi merek 'Covovax', sementara yang diproduksi di Amerika Serikat dikenal dengan Nuvaxovid atau NVX-CoV2373.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, keduanya sama-sama menggunakan teknologi vaksin nanopartikel protein rekombinan. Sementara, Penny memastikan vaksin Novavax yang dimaksud sudah mendapat izin BPOM RI ialah vaksin COVID-19 yang diproduksi di India.
"Jadi yang sudah mendapatkan izin EUA dari BPOM adalah vaksin Covovax, jadi Covovax dan vaksin Novovax itu memang vaksin yang sama, tapi Novavax itu yang diuji klinik di Amerika dan diproduksi di Amerika dan dalam proses tersebut mereka belum mendapatkan EUA memang dari US FDA," beber Penny dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, Senin (8/11/2021).
"Karena alasannya adalah mereka proses produksinya belum stabil ya, iya jadi produksi komersialnya belum konsisten, jadi masih ada tahapan tes-tes lagi yang mereka belum selesaikan sehingga prosesnya dengan US FDA belum mendapatkan EUA," sambung Penny.
Baru Filipina dan RI yang menyetujui vaksin Covovax
Selain Indonesia, negara lain yang menyetujui vaksin Covovax adalah Filipina. Otoritas setempat juga menyetujui vaksin nanopartikel ini untuk usia dewasa 18 tahun ke atas.
"Vaksin nanopartikel, di bawah nama merek Covovax, akan diproduksi oleh Serum Institute di India, dan telah disetujui untuk digunakan pada orang dewasa berusia 18 tahun ke atas," kata kepala badan otoritas kesehatan Filipina, Rolando Enrique Domingo dalam briefing publik, dikutip dari Reuters.
(naf/kna)











































