Selasa, 23 Nov 2021 20:28 WIB

Pakar Sebut Vaksinasi Maksimal Bisa Cegah Gelombang Ketiga COVID-19

Inkana Izatifiqa R Putri - detikHealth
A healthcare worker tends to a COVID-19 patient in a tent set up on the soccer field of the Samaritana Hospital, in Bogota, Colombia, Thursday, June 3, 2021. Colombia has become a pandemic hotspot experiencing a third wave of COVID-19 infections and a surge in deaths. (AP Photo/Ivan Valencia) Foto: AP/Ivan Valencia
Jakarta -

Kasus COVID-19 di beberapa negara Eropa seperti Jerman, dan Denmark mengalami peningkatan. Bahkan, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) meningkatkan rekomendasi perjalanan ke Level Empat dengan kategori penularan sangat tinggi untuk kedua negara Eropa tersebut.

Memburuknya kasus COVID-19 di beberapa negara pun meningkatkan kekhawatiran pemerintah akan potensi gelombang ketiga COVID-19 di Indonesia. Namun, Pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Iwan Ariawan mengatakan hal ini bisa dihindari jika cakupan vaksinasi maksimal.

"Untuk memenuhi target vaksinasi 70% penduduk pada akhir 2021, perlu dukungan penuh dari masyarakat," kata Iwan dikutip dari Antara, Selasa (23/11/2021).

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, total sasaran vaksinasi COVID-19 nasional sebanyak 208.265.720 orang. Sedangkan vaksinasi dosis pertama hingga Senin (23/11) pukul 12.00 WIB sudah mencapai 135.417.063. Vaksinasi dosis kedua sudah mencapai 90.227.782.

Dari total sasaran, jumlah vaksinasi dosis 1 telah mencapai 65.02%, sementara vaksinasi dosis 2 baru mencapai 43.32%.

"Jika masyarakat yang divaksin terus bertambah, Indonesia kemungkinan bisa menghindari gelombang ketiga," katanya.

Selain vaksinasi, Iwan mengatakan saat ini banyak orang yang sudah memiliki antibodi COVID-19 secara alami karena pernah terinfeksi. Hal inilah menurutnya dapat mengurangi risiko penularan COVID-19.

"Kenaikan kasus tidak setinggi saat libur Natal atau Idul Fitri lalu (tahun 2020)," katanya.

Oleh karena itu, Iwan mengatakan seluruh pihak perlu meningkatkan cakupan vaksinasi agar Indonesia bisa segera mengubah epidemi COVID-19 menjadi fase endemi.

Sayangnya, hingga kini sebagian masyarakat masih enggan mengikuti vaksinasi karena terpapar hoax terkait efek samping dan manfaat vaksin. Ia juga melihat ada sebagian masyarakat yang memang antivaksin, namun jumlahnya tidak banyak. Guna mengatasi persoalan ini, ungkap Iwan, diperlukan strategi tepat untuk melawan hoax.

"Tidak bisa hanya mengandalkan tenaga kesehatan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat yang antivaksin atau tidak percaya vaksin. Harus orang yang sesuai, yang didengarkan oleh orang-orang yang percaya hoaks tersebut," katanya.

Sementara itu, Guru Besar Sosiologi Universitas Gajah Mada (UGM) Sunyoto Usman menilai literasi mengenai COVID-19 dari pemerintah, tokoh masyarakat, sekolah, kampus, media massa, hingga ormas sangat diperlukan. Hal ini guna memberikan pemahaman kepada masyarakat yang antivaksin atau mereka yang percaya hoaks. Mengingat tidak mudah bagi orang awam untuk memahami bahaya virus COVID-19.

"Baru ketahuan dampak negatifnya setelah ada yang terpapar," pungkasnya.



Simak Video "Pakar Bicara Potensi Sumber Gelombang Ketiga Corona di RI"
[Gambas:Video 20detik]
(ncm/ega)