Jumat, 26 Nov 2021 09:00 WIB

Rokok Elektrik Vs Batangan, Lebih Bahaya yang Mana? Ini Kata Dokter

Vidya Pinandhita - detikHealth
Di sudut Kota Jakarta terdapat sebuah kampung yang dikenal sebagai Kampung Bebas Asap Rokok. Nekat merokok di sini siap-siap kena denda Rp 50 ribu. Penasaran? Foto ilustrasi: Agung Pambudhy
Jakarta -

Problema rokok bak tak ada habisnya di tanah air. Beragam cara dilakukan untuk menekan jumlah perokok mulai dari gambar seram di bungkus, menghilangkan pajangan rokok di gerai-gerai, dan sejumlah alternatif rokok. Di antara alternatif rokok tersebut, ada yang menuai kontroversi yaitu penggunaan rokok elektrik (vape).

Dokter spesialis paru-paru, dr Gatut Priyonugroho, SpP, menegaskan bahaya rokok elektrik pada dasarnya sama saja dengan bahaya rokok konvensional. Lantaran sama-sama terdapat pembakaran, imbasnya pada risiko kanker paru-paru pun serupa.

"Rokok elektrik dia belum ada penelitian sebesar rokok yang biasa. Cuman diduga dia juga menyebabkan kanker karena zat-zat miripnya juga," terangnya dalam diskusi daring Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) terkait penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan kanker paru, Kamis (25/11/2021).

"Bahan-bahan yang dibakar, kira-kira yang keluarnya sama. Ada arseniknya juga, PAH-nya juga (Polisiklik Aromatic Hidrokarbon), jadi sama. Sama kayak kita membakar apa saja. Ada daun, ada ranting, kita bakar, itu sama kira-kira yang keluar seperti itu," lanjutnya.

Hingga kini, belum ada hasil riset ilmiah terkait perbandingan efek rokok elektrik dengan rokok konvensional.

Namun menurut dr Gatut, bahaya rokok elektronik dan rokok konvensional sebenarnya mirip dengan menghirup asap benda dibakar. Perbedaannya, asap bakaran dari rokok bak 'ditelan bulat-bulat' sehingga efeknya lebih besar.

"Bedanya kalau merokok, kita dengan sengaja, dengan niat, dengan upaya kita masukkan telek-telek asapnya, kita masukkan ke paru. Bedanya kalau bakar di luar, ada jarak dan yang masuk nggak banyak, sedikit," bebernya.

"Sebenarnya kalau dari hasil bakarannya, itu sangat serupa dengan rokok. Hanya kalau dibilang level bukti ilmiahnya belum sekuat rokok biasa karena memang belum lama. Untuk diteliti sampel dalam jumlah besar belum cukup subjeknya," pungkas dr Gatut.



Simak Video "Rokok Elektrik Vs Rokok Konvensional, Mana yang Lebih Berbahaya?"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/fds)