Jumat, 26 Nov 2021 13:00 WIB

Panel Ahli WHO Buka Suara soal Lembaga AS Prediksi RI Tak Diamuk Gelombang 3

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kasus COVID-19 di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya DKI, mengalami penurunan. Namun bukan berarti virus Corona sudah hilang karena kita masih berperang melawan COVID-19. Prediksi gelombang ketiga Corona di Indonesia. (Foto: PIUS ERLANGGA)
Jakarta -

Panel ahli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dicky Budiman buka suara soal prediksi Lembaga AS IHME menyebut Indonesia tak akan dihadang gelombang ketiga. Menurut dia, sulit untuk memastikan hal tersebut di tengah situasi sejumlah negara Eropa yang kembali diamuk wabah baru.

Terlebih, Dicky menilai proyeksi IHME terkait tren kasus COVID-19 Eropa juga sempat keliru di beberapa bulan lalu.

"IHME sendiri juga tidak secara tepat memprediksi situasi Eropa saat ini sekitar 2 atau 3 bulan lalu," beber epidemiolog Universitas Griffith Australia, kepadadetikcom Kamis (25/11/2021).

"Bahkan kalau dilihat di website-nya pada September lalu dia masih memprediksi bahwa akan terjadi penurunan kasus di Eropa Barat, yang malahan kita lihat sekarang meningkat," sambung Dicky.

Ia kemudian mengingatkan jika situasi wabah COVID-19 sangat dinamis. Ada banyak faktor yang bisa menjadi pemicu peningkatan kasus, sehingga skenario terburuk yang sebenarnya harus menjadi pertimbangan kebijakan ke depan.

"Karena kalau yang terburuk dianggap tidak akan terjadi, itu salah besar, berbahaya, dan akan akhirnya mengulang apa yang sudah dialami, di Eropa sekarang, atau seperti gelombang kedua di Indonesia kemarin," pesan Dicky.

Dicky kemudian menyebut kemunculan varian B.1.1.529 menjadi ancaman baru di 2022 mendatang. Pasalnya, mutasi yang dimiliki varian B.1.1.529 lebih banyak ketimbang varian Delta.

Para peneliti di Inggris khawatir varian B.1.1.529 berpotensi lebih cepat menular dibandingkan varian Delta, hingga lebih resisten terhadap vaksin COVID-19.

"Yang menjadi perhatian dari varian ini adalah ada mutasi yang bahkan paling banyak dari sekian varian yang timbul, ini merupakan varian yang memiliki mutasi terbanyak, ada 32 mutasi yang salah satunya terdeteksi di Cambridge, Inggris, oleh peneiti inggris," pungkas dia.

Skenario terburuk IHME

Dalam skenario terburuk IHME, Indonesia diprediksi akan mengalami peningkatan kasus COVID-19 hingga 28 ribu kasus di Maret mendatang. Tetap tidak lebih tinggi dari puncak kasus Juli lalu.



Simak Video "Waspada Gelombang Ketiga Corona, Ayo Belajar dari 3 Bulan Lalu!"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)