Eks Petinggi WHO Minta RI Segera Antisipasi Masuknya Varian Omicron

ADVERTISEMENT

Eks Petinggi WHO Minta RI Segera Antisipasi Masuknya Varian Omicron

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Sabtu, 27 Nov 2021 17:03 WIB
Pandemi COVID-19 DKI Jakarta makin hari makin terkendali. Salah satu indikatornya persentase kasus positif COVID-19 sudah berada di angka 0,9 persen.
Ilustrasi eks petinggi WHO mendesak RI untuk segera mengantisipasi masuknya varian Omicron. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Profesor Tjandra Yoga Aditama meminta pemerintah untuk segera mengantisipasi masuknya varian Omicron ke Indonesia. Pasalnya, varian Omicron dikategorikan WHO sebagai varian mengkhawatirkan.

Ada potensi menular lebih cepat, kebal antibodi yang dihasilkan pasca vaksinasi, hingga risiko reinfeksi COVID-19. Karenanya, ada tujuh poin yang didesak Prof Tjandra untuk segera diperhatikan.

Pertama, menurutnya penting untuk mengkaji ulang kebijakan perjalanan masuk Indonesia.

"Secara rinci mengecek riwayat perjalanan, karena bisa saja sekarang datang dari negara aman misalnya tapi beberapa hari sebelumnya berkunjung ke negara terjangkit," beber dia dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom Sabtu (27/11/2021).

Karantina diperketat

Prof Tjandra juga meminta karantina diperketat hingga meningkatkan jumlah testing whole genome sequencing (WGS) untuk melihat risiko kemunculan varian baru Corona B.1.1.529.

"Sebaiknya dapat sampai beberapa puluh ribu pemeriksaan seperti dilakukan India dan negara lain," sambung Prof Tjandra.

Waspada klaster

Pemerintah juga diminta untuk mewaspadai kemunculan klaster di sejumlah kabupaten kota. Tentunya dengan meningkatkan surveilans dan memastikan jumlah testing COVID-19 terus berada di standar minimal WHO.

"Melakukan telusur pada semua kontak dari seorang kasus, setidaknya sebagian besar, kalau ditetapkan hanya 8 orang yg ditelusuri maka pada berbagai keadaan mungkin belum cukup," kata dia.

Vaksinasi lansia

Salah satu hal yang menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah Indonesia adalah cakupan vaksinasi lansia. Laju vaksinasi beberapa pekan ke belakang juga mulai menurun. Setidaknya, ia meminta vaksinasi COVID-19 lengkap terus ditingkatkan.

"Selalu mengikuti perkembangan ilmiah yang ada, yang mungkin berubah amat cepat, dan semua keputusan harus berdasar bukti ilmiah 'evidence-based decision making process'," pungkas dia sembari menekankan masyarakat untuk tak lengah menerapkan protokol kesehatan.



Simak Video "Selain XBB, Subvarian Omicron BQ.1 Juga Dipelototi WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT