Selasa, 30 Nov 2021 11:01 WIB

Satgas Prediksi Lonjakan Gelombang 3 RI Bisa Capai 400 Ribu Kasus

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Pandemi COVID-19 DKI Jakarta makin hari makin terkendali. Salah satu indikatornya persentase kasus positif COVID-19 sudah berada di angka 0,9 persen. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Satgas Penanganan COVID-19 memprediksi potensi munculnya gelombang ketiga Corona pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Jika berdasarkan skenarionya, lonjakan kasusnya bisa mencapai 70 ribu hingga 400 ribu kasus.

Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas COVID-19, Dewi Nur Aisyah, mengungkapkan prediksi potensi kenaikan kasus ini dilakukan menggunakan data dan variabel terkait penanganan Corona di Indonesia. Ini dibuat dengan dilakukan modeling menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Berikut beberapa skenario yang dibuat oleh Satgas terkait prediksi gelombang ketiga COVID-19 pada libur Nataru:

Skenario pertama

Pada skenario ini, di mana kekebalan kelompok (herd immunity) sudah terbentuk, mobilitas rendah, kepatuhan protokol kesehatan tinggi, dan tidak ada varian baru, kasus Corona di Indonesia diprediksi akan tetap landai bahkan menurun hingga awal tahun depan.

Namun, Dewi mengatakan skenario ini tereliminasi karena kemunculan varian Omricron. Selain itu, herd immunity juga dipastikan belum bisa terbentuk pada Desember 2021 nanti.

Skenario kedua

Di skenario ini diprediksikan kasus bisa meningkat dengan puncak sekitar 70 ribu kasus, dengan kondisi herd immunity belum terbentuk, mobilitas penduduk tinggi, dan kepatuhan protokol kesehatan yang cukup baik di masyarakat.

"Kekebalan kelompok belum terbentuk karena melihat data sekarang Desember pun masih belum terkejar untuk 70 persen. Jadi kekebalan kelompok belum ada, mobilitas tinggi, tapi kepatuhan protokol kesehatan cukup baik. Makanya dia (kasus) naik, tapi puncaknya sekitar 70 ribu kasus saja," kata Dewi dalam webinar online, Senin (29/11/2021).

Skenario ketiga

Pada skenario ini puncak gelombang ketiga diprediksi mencapai sekitar 260 ribu kasus. Ini bisa terjadi jika herd immunity belum terbentuk, mobilitas tinggi, dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan rendah.

Perbandingan prediksi angka puncak antara skenario kedua dan ketiga ini cukup jauh. Dari kedua prediksi itu, bedanya terletak pada tingkat kepatuhan protokol kesehatan.

Skenario keempat

Ini menjadi skenario terburuk jika herd immunity belum terbentuk, mobilitas tinggi, tingkat kepatuhan prokes rendah, dan muncul varian-varian baru di Indonesia yang 40-50 persen lebih menular dari varian sebelumnya.

Pada skenario ini, kasus pada gelombang ketiga diprediksi bisa mencapai 400 ribu pada puncaknya. Namun, angka yang diprediksikan ini masih lebih rendah dibandingkan lonjakan kasus pada pertengahan 2021 lalu.

"Puncak kita mungkin tidak akan lebih dari (puncak kasus pada Juli 2021), karena vaksinasinya sudah jauh lebih luas cakupannya dibandingkan libur Idul Fitri lalu. Jadi, kasusnya (kasus aktif) naik, tapi mungkin angkanya hanya sampai di kisaran 400 ribu saja," jelasnya.



Simak Video "Waspada Gelombang Ketiga Corona, Ayo Belajar dari 3 Bulan Lalu!"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)