Rabu, 01 Des 2021 22:06 WIB

6 Hal yang Perlu Diketahui dari Varian COVID-19 Omicron

Atta Kharisma - detikHealth
Virus corona: Apakah varian Omicron memang sangat berbahaya? Foto: BBC Magazine
Jakarta -

World Health Organization (WHO) telah menetapkan varian baru COVID-19, B.1.1.529 atau Omicron sebagai Variant of Concern (VOC) atau varian yang menjadi perhatian pada 26 November 2021. Hal ini dipicu setelah ditemukan bukti yang menunjukkan beberapa mutasi yang mungkin berdampak pada perilaku varian tersebut.

"Keputusan ini didasarkan pada bukti yang diberikan kepada TAG-VE bahwa Omicron memiliki beberapa mutasi yang mungkin berdampak padaperilakunya, misalnya, seberapa mudah menyebar atau tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya," demikian penjelasan WHO dikutip dari website covid19.go.id, Rabu (1/12/2021).

TAG-VE merujuk pada The Advice of WHO's Technical Advisory Group on Virus Evolution atau Kelompok Penasihat Teknis WHO tentang Evolusi Virus. WHO menjelaskan saat ini para peneliti di seluruh dunia sedang melakukan penelitian untuk lebih memahami seluk beluk varian Omicron.

"Studi saat ini sedang berlangsung termasuk penilaian tingkat penularan, tingkat keparahan infeksi juga gejala, kinerja vaksin dan tes diagnostik, serta efektivitas pengobatan," kata WHO.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, berikut beberapa poin penting tentang varian Omicron yang saat ini telah diketahui.

1. Penularan

Hingga saat ini, WHO masih belum bisa menjelaskan secara detail apakah Omicron memiliki tingkat penularan yang lebih besar ketimbang varian lain, termasuk Delta. WHO menyebutkan jumlah orang yang di tes positif terpapar varian Omicron di wilayah Afrika Selatan meningkat, namun diperlukan studi epidemiologi untuk memahami apakah peningkatan tersebut memang disebabkan oleh varian Omicron atau faktor lainnya.

2. Tingkat Keparahan Penyakit

Data awal menunjukkan varian Omicron belum menunjukkan gejala spesifik yang berbeda dibandingkan dengan varian virus COVID-19 lain. WHO menjelaskan infeksi awal yang dilaporkan terjadi di kalangan individu yang lebih muda cenderung memiliki penyakit yang lebih ringan tetapi untuk mengetahui tingkat keparahan varian Omicron akan memakan waktu berhari-hari hingga beberapa minggu.

3. Efektivitas Infeksi SARS-CoV-2

WHO mengungkapkan adanya kemungkinan terjadinya peningkatan risiko infeksi ulang dengan Omicron, yaitu orang yang sebelumnya terinfeksi COVID-19 dapat terinfeksi lagi dengan lebih mudah dibandingkan dengan varian lainnya.

4. Efektivitas vaksin

Untuk mengetahui dampak potensial varian Omicron terhadap tindakan pencegahan yang ada saat ini, termasuk vaksinasi, WHO melakukan kerja sama dengan pihak terkait untuk mengetahui seberapa besar tingkat ketahan varian Omicron tersebut. Saat ini WHO masih memandang vaksinasi COVID-19 penting dan efektif untuk mengurangi penyakit parah dan kematian, serta melawan varian yang beredar seperti Omicron dan Delta.

5. Efektivitas Tes

WHO telah melakukan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mendeteksi infeksi varian Omicron. Studi juga dilakukan untuk mengetahui dampak pada jenis tes lain, termasuk tes deteksi antigen cepat sedang berlangsung.

6. Efektivitas perawatan

WHO menyebutkan Kortikosteroid dan Interleukin-6 (IL6) Receptor Blocker masih efektif untuk menangani pasien COVID-19 yang parah. Sementara itu, perawatan lain masih akan dikaji efektivitasnya mengingat perubahan pada bagian virus varian Omicron.

Statusnya yang masih baru membuat WHO waspada dan melakukan koordinasi dengan sejumlah peneliti di seluruh dunia guna mengetahui semua hal tentang varian Omicron.

WHO juga mengingatkan untuk selalu menjaga jarak fisik minimal 1 meter dari orang lain, memakai masker yang pas, membuka jendela untuk meningkatkan ventilasi, menghindari ruang yang berventilasi buruk atau ramai, menjaga tangan agar tetap bersih, batuk atau bersin ke siku atau tisu yang tertekuk dan melakukan vaksinasi guna mengurangi penyebaran virus COVID-19.

(akn/ega)