Sabtu, 04 Des 2021 10:14 WIB

Siapa Bilang OCD Cuma Soal Kebersihan? Yang Sering Cek-cek atau Cemas Merapat!

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Penulis buku Diary of My OCD. Foto: Aisyah Kamalia
Jakarta -

Siapa yang sering cek kompor sampai bolak-balik padahal sudah 10 kali dilihat? Imej OCD ternyata bukan cuma soal kebersihan loh, tapi lebih dari itu.

Perkenalkan aku Aisyah, sudah dua tahun setengah didiagnosis OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Sebenarnya dari namanya sudah cukup tergambarkan, ada obsesi berupa pikiran berulang yang disertai dengan kompulsi atau tindakan berulang pula tapi banyak yang salah paham.

Aku sendiri sudah sering menjelaskan melalui Instagram @aisyahkamalia, namun stigma orang ketika mendengar OCD adalah orang yang super takut dengan kuman.

Padahal, menurut yang aku alami, bukan cuma rasa takut tapi OCD bisa lebih dari itu.

Di usia kepala dua, masalah kesehatan mental rentan terjadi dan atau disadari, dipicu dari stressor yang semakin banyak pula. Karena itulah, baru setelah ulang tahun ke-23, aku baru menyadari aku punya masalah kesehatan mental.

OCD yang aku miliki berupa kebiasaan menghitung segala sesuatu di angka ganjil, seperti melangkah harus tiga kali kalau tidak aku (merasa) akan disambar petir, walaupun -- hei, apa korelasinya?

Namun, serius deh. Ini benar-benar mengganggu, hingga akhirnya aku dinyatakan depresi.

Selama depresi, hidupku seakan berubah menjadi hitam dan putih, tidak ada warna lain, bahkan sekadar abu-abu. Aku diliputi rasa cemas dan juga keputusasaan. Bahkan, panca inderaku terasa hilang fungsi.

Aku hilang rasa empati, aku sulit untuk mengenali emosi orang lain, aku tidak tahu apa yang membuatku sedih/marah/bahagia. Aku menjadi manusia dengan pikiran kalut, bagaikan benang kusut yang sulit untuk diuraikan. Bahkan bermain dan menulis yang biasanya menjadi hobiku justru menjadi pekerjaan yang sangat berat. Bahkan sekadar untuk bangun dari tidur dan merentangkan tangan. Ngulet.

Aku lelah menjalaninya, akan tetapi aku sadar aku tidak sendiri. OCD adalah kondisi yang sebenarnya umum. Di Amerika, 1 dari 40 orang dewasa dan 1 dari 100 anak mengalami OCD. Di Indonesia, angkanya tidak diketahui pasti. Cuma yang pasti, aku tahu sejumlah orang yang mengalaminya -- tentu saja, kan aku masuk komunitasnya.

Karena itulah, aku ingin membagikan kisahku melalui buku berjudul 'Diary of My OCD: Where is the Happiness'. Aku yakin banyak di luar sana orang yang sedang mencari alasan untuk bertahan hidup dan melanjutkan perjalanan sisa umurnya.

Percayalah, walaupun sulit, kamu akan menemukan jalan menuju kebahagiaan. Tak usah berlari, berjalanlah, walau tertatih.

Buku Aisyah Kamalia.Buku Diary of My OCD. (Foto: Aisyah Kamalia)


Simak Video "Kenali dan Sikapi Pengidap OCD"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fds)