Sabtu, 04 Des 2021 16:02 WIB

Beda Gejala Varian Omicron Pada Orang yang Sudah Divaksin Vs Belum Vaksin

Firdaus Anwar - detikHealth
Virus In Red Background - Microbiology And Virology Concept Foto: Getty Images/iStockphoto/loops7
Jakarta -

COVID-19 varian Omicron menjadi kekhawatiran dunia setelah pertama kali dilaporkan oleh Afrika Selatan seminggu yang lalu. Sebagian negara langsung memperketat perbatasan dengan sebagian di antaranya juga sudah menemukan kasus varian Omicron.

Varian Omicron menjadi kekhawatiran karena memiliki banyak mutasi, bahkan mengalahkan Delta. Saat ini para ilmuwan masih melakukan studi untuk mengetahui dampak apa saja yang bisa dibawa oleh mutasi pada varian Omicron.

Salah satu hal yang jadi perhatian adalah tingkat keparahan atau gejala varian Omicron. Belum ada studi kuat yang bisa jadi bukti, namun beberapa pakar sudah melaporkan hasil pengatamannya.

Gejala varian Omicron dapat berbeda pada orang yang sudah divaksinasi COVID-19 dibandingkan dengan yang belum. Berikut penjelasannya:

1. Sudah divaksinasi

Juru bicara vaksinasi Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi menyebut varian Omicron tidak meningkatkan gejala keparahan pada mereka yang terinfeksi. Gejalanya akan cenderung lebih ringan jika sudah divaksinasi penuh.

"Yang kita tahu varian Omicron ini walau cepat menular, tidak meningkatkan tingkat keparahan. Terutama pada individu yang sudah divaksin," beber dr Nadia.

Salah satu dokter asal Afrika Selatan yang pertama kali mendeteksi adanya varian Omicron mendeskripsikan gejala pada orang yang sudah divaksinasi adalah:

  • Nyeri otot
  • Kelelahan ekstrem
  • Tidak enak badan
  • Sakit kepala

2. Belum divaksinasi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut gejala yang ditimbulkan oleh varian Omicron secara umum tidak berbeda jauh dari varian lain. Ini artinya gejala seperti demam, batuk, dan kesulitan bernapas dapat ditemukan pada pasien yang mengalami infeksi sedang hingga parah.

"Data awal memang menunjukkan ada peningkatan pasien yang dirawat di rumah sakit Afrika Selatan. Tapi ini kemungkinan karena jumlah orang yang terinfeksi juga bertambah banyak, bukan secara spesifik akibat varian Omicron," tulis WHO.

"Memahami tingkat keparahan gejala yang bisa ditimbulkan varian Omicron butuh waktu beberapa minggu. Semua varian COVID-19, termasuk Delta yang masih mendominasi di dunia, bisa menyebabkan sakit parah dan kematian terutama pada mereka yang rentan sehingga pencegahan jadi kuncinya," pungkas WHO.



Simak Video "WHO Temukan Bukti Gejala Omicron Lebih Ringan"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)