ADVERTISEMENT

Senin, 06 Des 2021 16:44 WIB

Bukan Batuk, Ini Ciri Gejala Tak Biasa Varian Omicron

Astika - detikHealth
People queue to get vaccinated against COVID-19 on the first day of a new vaccination center in Lisbon, Wednesday, Dec. 1, 2021. Long lines formed at the Portuguese capitals largest vaccination center to date as authorities there tried to encourage the 2% of the population who are not vaccinated yet, Europes lowest rate, and to speed up the administration of booster shots. Despite its excellent vaccination record, cases have been rising non-stop over the past two months, although hospitalizations are far away from levels seen in previous surges. (AP Photo/Armando Franca) Ciri-ciri gejala varian Omicron, batuk tak termasuk. (Foto: AP/Armando Franca)
Jakarta -

Sejak pertama kali dilaporkan di Afrika Selatan pada Rabu (24/11), Omicron telah menyebar ke banyak negara. Kurang dari dua minggu, 38 negara telah melaporkan temuan kasus COVID-19 akibat Omicron di negaranya. Akan tetapi hingga kini, tidak ada laporan kematian akibat COVID-19 dengan infeksi varian Omicron.

Dokter Afrika Selatan, Angelique Coetzee, pertama kali menginformasikan bahwa varian Omicron memiliki gejala ringan tetapi tergolong tidak biasa pada pasien sehat. Di sisi lain, studi terbaru menunjukkan bahwa varian Omicron berisiko meningkatkan risiko reinfeksi hingga 2,39 kali lebih tinggi.

Berdasarkan pengamatan kasus di Afrika Selatan, berikut ciri-ciri gejala COVID-19 Omicron yang dilaporkan:

  • Gejala seperti flu (flu like syndrome)
  • Batuk kering
  • Demam
  • Berkeringat di malam hari
  • Nyeri pada banyak bagian tubuh
  • Kelelahan
  • Tenggorokan gatal
  • Tidak batuk
  • Tidak kehilangan indra perasa dan penciuman

Menanggapi temuan gejala varian Omicron yang tergolong ringan tersebut, ahli penyakit menular di Riverside Health System Virginia yakni Rebekah Ann Vreeland Sensenig berpendapat bahwa kemungkinan karena sebagian besar pasien yang terinfeksi masih usia muda sehingga memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat.

Mencegah infeksi varian Omicron

Ketua Pokja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM dr. Gunadi, SpBA, PhD mengatakan selain memakai masker dengan tepat, divaksinasi juga menjadi kunci di dalam mengatasi varian Omicron.

"Kasus di Afsel banyak terjadi pada pasien berusia 18-34 tahun dengan tingkat cakupan (coverage) vaksin rendah. Artinya vaksin ini sangat penting untuk menghadapi infeksi COVID-19," kata Gunadi



Simak Video "WHO Temukan Bukti Gejala Omicron Lebih Ringan"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT