ADVERTISEMENT

Selasa, 07 Des 2021 09:45 WIB

Luhut Klaim Antibodi COVID-19 Warga RI Tinggi, Pakar Ingatkan Reinfeksi Omicron

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Bloomberg perbarui penilaian ketahanan negara terbaik-terburuk dalam respons pandemi Corona. Hasilnya, Indonesia ada di urutan ke 52, nomor dua terbawah sedunia Benarkah antibodi COVID-19 warga Indonesia sudah tinggi? (Foto: Antara Foto)
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengklaim warga Indonesia sudah memiliki antibodi yang tinggi melawan COVID-19. Cakupan vaksinasi di Jawa Bali untuk dosis kedua disebutnya juga sudah mendekati 56 persen.

Tingginya antibodi warga Indonesia disebut Luhut berasal dari analisis sero-survey, tetapi Luhut tak menyebutkan persis angka yang didapat atau berapa banyak sebenarnya warga yang sudah memiliki antibodi COVID-19, baik dari vaksinasi maupun infeksi. Menurut pakar epidemiologi Dicky Budiman Universitas Griffith Australia, hal ini tak lantas menandakan Indonesia 'aman' dari COVID-19.

Meski sukses menangani pandemi karena menerapkan strategi PPKM berlevel, ancaman di 2022 rupanya tak berkurang. Di tengah banyak harapan dari vaksin, obat, hingga pembelajaran strategi di hampir dua tahun ke belakang, muncul varian baru Corona.

"Tetap ada ancaman, krisis Delta belum selesai, bahkan dunia juga belum. Kedua, kita menghadapi ancaman varian-varian baru yang semakin cepat menginfeksi, mudah menular, dan berpotensi menurunkan antibodi baik karena vaksinasi maupun infeksi," beber Dicky saat dihubungi detikcom Selasa (7/12/2021).

Jika dua hal tersebut terjadi, Dicky menilai fasilitas kesehatan tentu akan terbebani.

"Oleh karena itulah maka kita tidak bisa cukup aman saat ini, belum aman Indonesia meskipun sero survey mengatakan bahkan 80 persen Indonesia sudah terinfeksi, sudah punya antibodi, itu nggak dijamin, dengan Omicron bisa terinfeksi lagi," lanjut Dicky.

Penyebab masih ada ancaman

Tren kasus COVID-19 menurun jika tak dibarengi dengan capaian testing, tracing, hingga treatment dan protokol kesehatan 5M yang ketat, sulit untuk benar-benar terbebas dari COVID-19. Terlebih, jika negara hanya mengandalkan vaksinasi.

"Karena tidak bisa satu strategi saja, kalau vaksinasi saja akan banyak korban," bebernya.

Dicky juga menyinggung potensi tsunami long COVID yang sudah dianalisis di beberapa negara. Berdasarkan suatu riset, Dicky mewanti-wanti potensi 30 persen dari total penduduk yang terpapar COVID-19 bakal mengalami long COVID.

Ia kemudian meminta sejumlah fasilitas kesehatan mulai mendata keluhan long COVID karena berisiko pada produktivitas sumber daya manusia (SDM) ke depan.

"Potensi tsunami long COVID itu akan sangat serius, jangan dianggap kita selesai, di mana SDM manusia menurun bahkan transplantasi paru di negara-negara maju, 1 dari 10 transplantasi adalah penderita long COVID," kata dia.

"Ini yang serius, kita jangan pernah maserasa aman ketika situasi dunia juga belum aman," pungkas Dicky.

Simak Video 'Pemerintah Tak Jadi Terapkan PPKM Level 3 Nataru, Ini Alasannya':

[Gambas:Video 20detik]

(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT