Rabu, 08 Des 2021 15:21 WIB

Simak! Studi Awal soal Efektivitas Terapi Antibodi Lawan Varian Omicron

Nada Zeitalini - detikHealth
People queue to get vaccinated against COVID-19 on the first day of a new vaccination center in Lisbon, Wednesday, Dec. 1, 2021. Long lines formed at the Portuguese capitals largest vaccination center to date as authorities there tried to encourage the 2% of the population who are not vaccinated yet, Europes lowest rate, and to speed up the administration of booster shots. Despite its excellent vaccination record, cases have been rising non-stop over the past two months, although hospitalizations are far away from levels seen in previous surges. (AP Photo/Armando Franca) Foto: AP/Armando Franca
Jakarta -

Berbagai negara di dunia sedang berupaya menekan bahaya dari COVID-19 varian omicron. Varian ini pertama kali ditemukan di Afrika Selatan dan diketahui memiliki risiko infeksi berulang (reinfeksi) yang cukup tinggi.

Menanggapi hal ini beberapa penelitian pun dilakukan sebagai upaya menekan dan mengendalikan varian baru COVID-19 ini. Mengutip CNBC Indonesia, Rabu (8/12/2021), sebuah studi tahap awal menemukan terapi COVID-19 berbasis antibodi efektif untuk menyembuhkan COVID-19 varian omicron. Studi ini berasal dari penelitian produsen obat Inggris GSK bersama mitra asal Amerika Serikat Vir Biotechnology.

Meski belum dipublikasikan dalam jurnal medis peer-review, studi tersebut menunjukkan terapi perusahaan Sotrovimab mampu melawan 37 mutasi yang teridentifikasi pada protein lonjakan.

"Data praklinis tersebut menunjukkan potensi antibodi monoklonal yang efektif melawan varian terbaru, Omicron, serta seluruh variants of concern yang ditetapkan oleh WHO hingga sekarang," kata Chief Scientific Officer GSK, Hal Barron, dikutip dari Reuters.

Penelitian GSK dan Vir melakukan rekayasa yang disebut pseudovirus. Ini menampilkan mutasi virus corona utama pada semua varian mencurigakan yang muncul hingga sekarang.

Sebagai informasi, varian omicron yang ditemukan di Afrika Selatan ini telah berkembang hampir ke 40 negara. Oleh sebab itu, berbagai negara lainnya termasuk Indonesia melakukan langkah mitigasi mencegah masuknya varian omicron ini. Sebab disebutkan bahwa varian omicron punya risiko reinfeksi tiga kali lebih tinggi dari varian delta.

"Infeksi ulang baru-baru ini terjadi pada individu yang infeksi utama terjadi di ketiga gelombang, dengan sebagian mengalami infeksi primer pada gelombang Delta," kata Penulis pertama studi dari Pusat Pemodelan dan Analisis Epidemiologi Afrika Selatan di Universitas Stellenbosch, Juliet Pulliam dalam tweetnya.

Melihat hal tersebut, Indonesia perlu meningkatkan waspada dan upaya ketat mencegah masuknya COVID-19 varian omicron. Terlebih jelang perayaan Natal dan tahun baru yang berpotensi meningkatkan mobilitas masyarakat.



Simak Video "Bertambah Lagi! Kini Varian Omicron Sudah Masuk Hawaii"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ega)