ADVERTISEMENT

Senin, 13 Des 2021 20:28 WIB

Antisipasi Varian Omicron, Staf FKUI: Lakukan Suntikan Booster

Jihaan Khoirunnisaa - detikHealth
RI rencanakan pemberian vaksin COVID-19 dosis ketiga sebagai booster mulai Januari 2022. Vaksin booster itu nantinya akan diberikan secara gratis dan berbayar. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan, varian baru COVID-19 yakni Omicron kini sudah menyebar ke berbagai negara. Meski begitu hingga saat ini belum terdeteksi adanya Omicron di Indonesia.

Guna mengantisipasi kemunculan Omicron, pemerintah terus menggencarkan vaksinasi. Utamanya kepada anak usia 6 tahun. Namun, apakah pemberian vaksin lengkap menjadi langkah preventif yang efektif untuk mencegah terinfeksi varian ini?

Staf Pengajar Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI dr. Erlina Burhan menjelaskan omicron adalah varian penyakit baru, sehingga pengetahuan tentang penyakit ini maupun vaksin masih terbatas. Selain itu, kondisi saat ini tentang virus Corona ini juga masih sangat dinamis.

"Melakukan antisipasi suntikan yang ketiga ataupun kemudian menjadi booster, itu adalah salah satu antisipasi, karena ada laporan mengatakan bahwa setelah 6 bulan kekebalan atau proteksi yang kita punyai akibat vaksinasi itu ada kecenderungan proteksinya menurun atau kekebalannya menurun," ujar Erlina dikutip dari laman CNBC Indonesia, Senin (13/12/2021).

Erlina menilai pada saat terjadi penurunan kekebalan tubuh karena tidak teratasi, kemudian menghasilkan penyebaran kasus varian, maka saat itulah saatnya booster itu berguna atau bermanfaat. Lebih lanjut dia mengatakan vaksinasi lengkap tidak menutup kemungkinan terhadap varian Omicron.

Dijelaskannya, masih ditemukan kasus terkonfirmasi Omicron pada orang yang sudah divaksin lengkap dengan Pfizer di Israel, Korea, dan Jepang, serta beberapa negara Eropa yang memakai vaksin AstraZeneca.

"Tetapi sekali lagi, ada kelebihan pada orang yang divaksin, yaitu walaupun sudah dimasuki oleh virus Omicron dari PCR-nya, ternyata mereka tidak bergejala, kalaupun ada, gejala-gejalanya ringan," tutur Erlina.

Selain itu, dia menjelaskan alasan pemerintah Indonesia belum bisa menyiapkan vaksin booster. Yakni karena memang targetnya masih diprioritaskan untuk vaksin 1 dan 2, sehingga protokol kesehatan masih tetap harus kencang dilaksanakan.

"Dan kalau kemudian punya uang setelah 6 bulan, jangan buru-buru baru 2 bulan divaksin yang kedua karena saking takutnya divaksin lagi, itu mubazir jadi minimal tunggu 6 bulan sampai 1 tahun baru dilakukan booster," pungkas Erlina.



Simak Video "Moderna Gercep Bikin Vaksin Booster Khusus Varian Omicron"
[Gambas:Video 20detik]
(fhs/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT