Selasa, 14 Des 2021 12:51 WIB

e-Life

Atasi Kecanduan Porno ke Psikolog Tanpa Tipu-tipu

dtv - detikHealth
Jakarta -

Jika anak telah masuk di fase kecanduan konten pornografi, mungkin inilah saatnya berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti psikolog. Namun, persoalan kadang timbul tentang bagaimana cara meyakinkan pasangan dan anak untuk mau berkonsultasi ke psikolog.

Psikolog Anak dan Remaja, Firesta Farizal, mengakui kesulitan ini. Kesehatan mental yang seringkali tidak dianggap serius, terutama di Indonesia, menyebabkan sulitnya mengedukasi orang di sekitar bahwa kesehatan mental itu juga sama pentingnya seperti kesehatan fisik.

"Kalau buat ke pasangan, kalau menurut saya, mungkin kita bisa bicarakan pelan-pelan terkait kekhawatirannya sebetulnya apa? Karena toh sebetulnya kalau kita bicara ke psikolog pun itu kan salah satu kode etik psikolog adalah memegang kerahasiaan atau confidentiality, jadi nggak bakal digosipin lah ibaratnya gitu. Nggak tiba-tiba nanti semua orang jadi tahu, 'Oh anaknya si A ternyata nonton pornografi! Terus nontonnya di hp bapaknya!' Nggak bakalan kayak gitu juga," jelas Firesta di program e-Life, detikcom.

Masih banyak anggapan miring kepada mereka yang berkonsultasi ke psikolog. Namun, Firesta meyakinkan bahwa terlalu memikirkan pandangan orang lain tidak akan menyelesaikan masalah, namun justru menambahnya.

Sedangkan untuk meyakinkan anak pergi konsultasi ke psikolog, Firesta menekankan untuk tidak mengajak anak dengan cara seperti menjebaknya.

"Saya beberapa kali dapat anak yang datang terus nggak ngerti, 'Kenapa sih aku diajakin ke sini?' Atau bahkan ada yang kayak, 'Nggak tahu tadi katanya cuma mau jalan-jalan, tiba-tiba sampai sini.' Jadi, sebisa mungkin jangan kayak gitu ya, detikers. Karena nanti pada akhirnya mungkin yang terjadi adalah anak jadi nggak percaya sama orang tuanya, atau jadi nggak percaya sama psikolog. Karena kayak aku seperti dijebak gitu ya, datang ke sini," kata Firesta.

Cara penyampaian pada anak yang transparan dan berempati, adalah hal penting yang harus diperhatikan orang tua saat mengajak anak berkonsultasi ke psikolog. Beri pemahaman kalau yang butuh psikolog bukan hanya anak tapi juga orang tua.

"Ada baiknya kita bicara aja apa adanya. Kita bisa bilang, 'Ya ampun nak, nggak enak banget pasti rasanya kamu tahu bahwa (menonton pornografi) itu nggak boleh, tapi kamu susah nih buat bisa stopnya. Nah, mama juga sebetulnya nggak terlalu tahu apa yang harus dilakukan. Mau nggak kita sama-sama konsultasi supaya kita bisa tahu apa yang bisa kita lakukan?' Bisa bicara kayak gitu," jelas Firesta.

Jangan sampai anak merasa disudutkan atau disalahkan atas kondisi yang ia alami. "Akan lebih baik sebetulnya kalau kita bukan menunjuk atau menyalahkan anak, tapi lebih ke ini sesuatu yang kita alami sama-sama, ayo kita usahakan sama-sama," terang Firesta.

(gah/gah)