Jumlah Kasus Penanganan Bedah Saraf di RS Siloam Naik Saat Pandemi

ADVERTISEMENT

Jumlah Kasus Penanganan Bedah Saraf di RS Siloam Naik Saat Pandemi

Nada Zeitalini - detikHealth
Rabu, 15 Des 2021 20:43 WIB
4 Korban Bom Bunuh Diri Makassar Dirawat di RS Siloam (Foto: Reinhard/detikcom)
Foto: Reinhard/detikcom
Jakarta -

Tim Bedah Saraf Rumah Sakit Siloam menilai pandemi menjadi pembuktian kompetensi yang dimiliki dokter di Indonesia. Hal ini dikarenakan selama masa pandemi banyak pasien yang tidak bisa berobat ke luar negeri dan memilih pelayanan kesehatan di dalam negeri.

Disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Julius July, Sp.BK (K), M.Kes., IFAANS, jumlah kasus penanganan bedah saraf selama pandemi di Rumah Sakit Siloam justru meningkat. Hal itu disebutnya untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dengan membuktikan hasil yang baik.

"Saya kira ini memang kesempatan untuk kita membuktikan kepada masyarakat Indonesia secara umum bahwa hasil di kita cukup baik, jadi tidak perlu terlalu jauh ke luar negeri," tutur dr. Julius dalam acara virtual peringatan 25 Tahun Tim Bedah Saraf Siloam Melayani Indonesia, Rabu (15/12/2021).

Julius juga menjelaskan jika hal ini terus berlangsung, masyarakat Indonesia mungkin akan menyadari untuk memilih berobat di dalam negeri. Ia juga menjelaskan bahwa tim dokter di Indonesia juga memiliki keunggulan dari segi bahasa. Di mana bahasa yang sama akan mudah berkomunikasi dengan pasien dan keluarga pasien.

Ia juga menjelaskan tentang tim bedah saraf Siloam yang masing-masing sudah terkhususkan. Hal itu diibaratkannya sebuah kapal dengan komponen-komponen pentingnya. Semakin lengkap komponen tersebut maka akan semakin canggih dan baik.

"Tujuan kita adalah orang-orang yang naik ke kapal ini merasa puas, karena semua pelayanannya terpadu," jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Prof. Dr. Dr. dr. Eka J. Wahjoepramono, Sp.BS (K), Ph.D setuju bahwa pandemi bisa menjadi masa pembuktian. Ia mengatakan tidak mudah membuat masyarakat percaya bahwa bedah saraf di Indonesia tidak kalah baik dengan luar negeri. Masyarakat dan tentunya pasien akan menilai dokter dalam negeri dari segi pelayanan, diagnosa, penanganan, dan bagaimana follow up-nya.

"Nanti yang menjadi pembuktian setelah pandemi selesai, mereka akan kembali ke luar negeri atau tetap dengan dokter Indonesia," tutur Eka.

Menurutnya tidak ada upaya yang lebih baik selain memberikan pelayanan yang setara atau lebih baik dari pelayanan kesehatan di luar negeri. Ia menambahkan, sebelum pandemi COVID-19, tim bedah saraf Siloam telah bersinergi dengan memberikan perkuliahan di negara-negara lain di 5 benua.

"Jadi kita sudah ke 5 benua untuk memberikan kuliah ke luar negeri dan kuliah bedah saraf tidak bisa hanya memaparkan referensi dari buku. Kuliah kita adalah apa yang kami lakukan, misalnya operasi aneurisma, operasi tulang belakang, operasi saraf otak itu semua memakai data dari pasien kami sendiri di Indonesia," jelasnya.

(akn/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT