Kamis, 23 Des 2021 10:10 WIB

Dokter Bandingkan Keganasan Varian Delta Vs Omicron, Ini Hasilnya

Razdkanya Ramadhanty - detikHealth
Ilustrasi covid-19 Ada kabar sedikit melegakan dari hasil studi mengenai infeksi varian Omicron Foto: BBC Magazine
Jakarta -

Kabar sedikit 'melegakan' kembali datang dari hasil penelitian yang dilakukan para peneliti di Afrika Selatan dan Skotlandia. Kali ini, kabar tersebut mengenai analisis infeksi varian Omicron.

Institut Nasional untuk Penyakit Menular (NICD) Afrika Selatan menemukan bawah, seseorang yang terinfeksi Omicron memiliki kemungkinan lebih rendah untuk berakhir di rumah sakit daripada mereka yang terinfeksi Delta.

"Di Afsel, ini adalah sebuah epidemi. Omicron berperilaku dengan cara yang tidak terlalu parah," ungkap Profesor Cheryl Cohen dari NICD dikutip dari Reuters, Kamis (23/12/2021).

Lebih lanjut, dalam penelitian itu juga disebutkan bahwa mayoritas warga Afrika Selatan telah terinfeksi COVID-19. Artinya, mereka sudah memiliki tingkat kekebalan lebih tinggi terhadap virus tersebut.

Penelitian serupa juga dilakukan di Skotlandia. Studi yang dilakukan University of Edinburgh memasukan data 23.840 kasus Omicron dan 126.511 kasus Delta yang dihimpun pada 1 November hingga 19 Desember.

Studi ini menyimpulkan, pasien yang terinfeksi Omicron dan telah mendapat vaksinasi penuh memiliki kemungkinan 80 persen lebih rendah untuk dirawat di rumah sakit dibandingkan dengan infeksi Delta.

"Meskipun jumlahnya kecil, penelitian ini adalah kabar baik. Ada pengurangan dua pertiga rawat inap pada usia muda yang divaksinasi penuh dibandingkan saat terinfeksi Delta, menunjukkan Omicron lebih ringan bagi banyak orang dan vaksin penuh manjur," terang James Naismith, Direktur Rosalind Franklin Institute dan profesor struktural biologi di Universitas Oxford, dikutip dari CNN Internasional.

Kata WHO Soal Hasil Penelitian Delta dan Omicron

Meski demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih belum berani menyimpulkan seluruh hasil penelitian Omicron tersebut. Pimpinan teknisi WHO untuk COVID-19, Maria van Kerkhove mengatakan, masih perlu ada penelitian lebih lanjut untuk menarik kesimpulan.

"Kami belum melihat varian ini beredar cukup lama di populasi di seluruh dunia, terutama di populasi yang rentan. Kami telah meminta tiap negara untuk berhati-hati dan benar-benar berpikir matang, terutama musim libur akan datang," jelasnya.

Seperti yang diketahui, saat ini varian Omicron telah merambah ke lebih dari 100 negara dunia. Indonesia merupakan salah satu negara tersebut dengan 8 kasus varian Omicron per Kamis (23/12/2021).

Saat ini, sudah ada kasus kematian terdeteksi di Inggris, Amerika Serikat dan Israel.



Simak Video "Wanti-wanti WHO soal Omicron, Jangan Disepelekan!"
[Gambas:Video 20detik]
(any/kna)