Beda Gejala Omicron pada yang Divaksin 2 Dosis, Booster, hingga Tak Disuntik

ADVERTISEMENT

Beda Gejala Omicron pada yang Divaksin 2 Dosis, Booster, hingga Tak Disuntik

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Rabu, 29 Des 2021 08:37 WIB
covid-19 omicron variant vaccination concept
Omicron. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Teka77)
Jakarta -

Varian Omicron kini tengah mengancam dunia. Meski gejala yang ditimbulkannya tak separah varian Delta, varian ini mampu menular lebih cepat dari jenis varian Corona lainnya.

Namun, salah satu dokter di unit gawat darurat (UGD) terkemuka di Manhattan, New York, mengatakan gejala yang muncul akibat varian Omicron bergantung pada jenis vaksin Corona yang diterima si pasien. Dokter tersebut bernama Craig Spencer.

Dokter yang berafiliasi dengan Universitas Columbia itu mengungkapkan gejala pada pasien Omicron yang ditemuinya berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi jenis vaksinnya.

"Setiap pasien yang saya temui dengan COVID-19 yang mendapat dosis 'penguat' ke-3 (booster) memiliki gejala ringan. Yang saya maksud ringan kebanyakan sakit tenggorokan. Banyak sakit tenggorokan," tulis Spencer dalam akun Twitter miliknya yang dikutip dari NBC New York, Rabu (29/12/2021).

"Juga beberapa kelelahan, mungkin beberapa nyeri otot. Tidak ada kesulitan bernapas. Tidak ada sesak napas. sedikit tidak nyaman, tapi baik-baik saja," tulisnya.

Untuk mereka yang mendapat vaksin sebanyak dua dosis juga menunjukkan gejala yang berbeda. Gejala yang dikeluhkan masih tergolong ringan, seperti kelelahan, demam, batuk.

"Secara keseluruhan sedikit lebih menyedihkan. Tapi tidak ada sesak napas. Tidak ada kesulitan bernapas. Sebagian besar baik-baik saja," katanya.

Namun, Spencer mengatakan untuk mereka yang mendapatkan vaksin J&J, atau vaksinasi lengkap dengan vaksin lain dan tidak mendapat booster, kondisinya bisa lebih buruk. Pasien bisa mengalami demam lebih lama hingga sesak napas. Berbeda dengan vaksin lain yang umumnya diberikan dalam 2 dosis, vaksin COVID-19 buatan J&J memang hanya diberikan sekali suntik. Artinya, sekali suntik sudah terhitung vaksin lengkap.

"Sebagian besar pasien yang saya lihat memiliki satu dosis J&J dan memiliki gejala COVID-19 secara keseluruhan lebih buruk. Merasa mengerikan. Demam selama beberapa hari (atau lebih). Lemah, lelah, beberapa sesak napas dan batuk. Tapi tidak ada yang perlu dirawat di rumah sakit. Tidak ada yang membutuhkan oksigen. Lumayan parah, tapi tidak mengancam jiwa," cuitnya.

Spencer juga mengungkapkan kondisi mereka yang belum mendapatkan vaksin COVID-19 sama sekali. Pasien-pasien tersebut lebih besar kemungkinannya untuk dirawat di rumah sakit.

Kebanyakan dari mereka mengalami sesak napas yang berat dan membutuhkan bantuan oksigen agar bisa bernapas secara teratur. Untuk itu, Spencer sangat menganjurkan agar orang-orang segera divaksinasi dan mendapatkan booster untuk mencegah infeksi varian Omicron.

"Dan hampir setiap pasien yang saya rawat yang harus dirawat karena COVID-19 belum divaksinasi. Setiap orang mengalami sesak napas berat. Setiap orang yang oksigennya turun saat berjalan. Setiap orang membutuhkan oksigen untuk bernapas secara teratur," pungkasnya.

Simak Video 'Fakta-fakta Penemuan Transmisi Lokal Omicron Pertama di Jakarta':

[Gambas:Video 20detik]



(sao/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT