ADVERTISEMENT

Kamis, 30 Des 2021 17:49 WIB

Siswa SD Meninggal Usai Vaksin Pfizer, Komnas KIPI Simpulkan Tak Terkait Vaksin

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Vaksin door to door gencar dilakukan sebagai langkah percepatan vaksinasi. Jelang HUT RI, aktivitas ini kental dengan nuansa kemerdekaan. Ilustrasi vaksinasi COVID-19. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Ketua Komisi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Prof Dr dr Hinky Hindra Irawan Satari, Sp.A (K), M.TropPaed buka suara soal anak SD berusia 12 tahun meninggal dunia kurang dari 24 jam setelah divaksinasi Pfizer. Kesimpulan hingga saat ini, sulit untuk mengaitkan penyebab kematian karena vaksin COVID-19.

"Jadi kita kan sudah audit bersama Komda KIPI. Hasil investigasi mereka kita berkesimpulan tidak terkait vaksinasi," tegas Prof Hindra saat dihubungi detikcom Kamis (30/12/2021).

"Namun, untuk mengetahui pasti penyebab kematian kita tidak cukup bukti karena anak itu divaksinasi kemudian pulang sudah pusing, dibawa ayahnya ke sawah main game, kemudian pulang lagi magrib, subuh muntah kemudian diare kemudian ada penurunan kesadaran besoknya dia dibawa ke puskesmas kemudian meninggal," sambungnya.

Prof Hindra menuturkan tidak ada data laboratorium, CT scan, atau pemeriksaan lain yang bisa dianalisis lebih lanjut. Keluhan gejala yang dilaporkan usai vaksinasi tersebut menurutnya bisa dikaitkan dengan banyak faktor, termasuk radang otak hingga pecahnya pembuluh darah.

"Nggak ada data lab, ct scan nggak ada, pemeriksaan lain nggak ada. Demam, penurunan kesadaran, muntah, diare, bisa radang otak. Penurunan kesadaran, muntah, bisa karena pecahnya pembuluh darah tapi itu nggak bisa kita buktikan," sambungnya.

Divaksinasi bersamaan dengan 18 anak

Prof Hindra menuturkan dirinya divaksinasi COVID-19 dengan 18 anak lain di sekolah. Adapun 17 anak lainnya dinyatakan sehat dan tidak mengeluhkan efek samping berat.

"Justru itu nggak ada laporan yang seperti dialaminya, nggak ada yang serupa baik di negara lain dan di Indonesia, jadi memang sulit menyebabkan kepastiannya. Jadi kita beranggapan saat ini bukti yang ada tidak menunjukkan terkait vaksiansi," pungkas dia.

Akankah dilakukan autopsi?

Prof Hindra mengaku siap jika pihak keluarga ingin jenazah dilakukan autopsi untuk melihat penyebab kematian yang bersangkutan. Namun, hal tersebut kembali lagi pada ketersediaan pihak keluarga.

"Kita tidak meminta kepada orang tua tetapi kalau memang dari keluarga dinginkan, tentunya akan kita lakukan," sambung dia.

Komnas KIPI sayangkan tak segera dibawa ke RS

Hingga kini, menurut dia keluhan usai vaksinasi COVID-19 termasuk pada kelompok usia anak bisa diatasi setelah mendapat penanganan lebih lanjut di fasilitas kesehatan. Prof Hindra mengimbau agar keluhan apapun yang terlihat berat, untuk langsung ditangani dengan dokter dan para ahli.

"Jadi memang dia menunjukkan gejala memang sebelum 24 jam, tapi dia dibawanya setelah itu," bebernya.

"Jadi lebih baik gejala apapun yang timbul segera dibawa ke faskes, segera dimintakan pertolongan, dilakukan rujuk beri izin untuk dirujuk, diperiksa dengan fasilitas kesehatan yang lebih lengkap," pungkas dia.



Simak Video "Aksi Badut dan Undian Sepeda Pikat Vaksinasi Covid-19 Anak di Tasik"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT