Sabtu, 01 Jan 2022 05:00 WIB

Kenali 7 Golongan Antibiotik untuk Atasi Berbagai Infeksi

Maulida Balqis - detikHealth
Antibiotik Foto: Getty Images/iStockphoto/Ridofranz
Jakarta -

Antibiotik merupakan kelompok obat yang berfungsi untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri pada manusia dan hewan. Antibiotik umumnya bekerja dengan membunuh bakteri atau dengan mengganggu bakteri agar tidak bisa tumbuh dan berkembang.

Antibiotik bisa digunakan lewat beberapa cara, yakni dikonsumsi lewat mulut, dioleskan pada kulit, maupun melalui suntikan. Pada penggunaan oral atau mulut, antibiotik biasanya tersedia dalam bentuk pil, kapsul, ataupun sirup. Penggunaan pada kulit atau topikal dapat dengan mengoleskan krim, semprotan, maupun salep pada kulit. Sedangkan untuk penggunaan melalui suntikan atau intravena, biasanya dilakukan untuk mengatasi infeksi yang lebih serius.

Penggunaan antibiotik cukup efektif untuk mengatasi berbagai infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Namun perlu diperhatikan bahwa tidak semua infeksi memerlukan antibiotik dalam pengobatannya.

Antibiotik hanya boleh digunakan saat diperlukan saja, sebab penggunaan obat-obatan ini bisa menimbulkan efek samping bila digunakan sembarangan. Penggunaan yang tidak diperlukan juga dapat menyebabkan resistensi antibiotik atau kondisi di mana bakteri menjadi lebih kebal terhadap antibiotik.

Golongan Antibiotik

Untuk mengetahui jenis-jenis antibiotik yang mampu mengatasi infeksi, simak golongan-golongan antibiotik berikut ini.

1. Penisilin

Golongan antibiotik pertama yaitu penisilin. Antibiotik yang tersedia dalam bentuk kaplet, sirup kering dan suntikan ini biasa digunakan ketika seseorang terkena infeksi bakteri, seperti infeksi streptococcus, meningitis, gonore, dan faringitis. Penisilin juga dipercaya bisa digunakan untuk pencegahan endokarditis, yaitu infeksi pada lapisan dalam dan katup jantung.

Golongan antibiotik ini juga bisa digunakan untuk penderita gangguan ginjal, dengan catatan perlu diresepkan dan dengan pengawasan dokter. Antibiotik yang memiliki berbagai bentuk ini juga terdiri dari beberapa jenis, yaitu Amoxicillin, Ampicillin, Oxacillin, dan Penicillin G.

2. Sefalosporin

Golongan antibiotik yang kedua yaitu sefalosporin. Sefalosporin bisa digunakan untuk orang yang mengidap infeksi tulang, otitis media, infeksi kulit, dan infeksi saluran kemih. Penggunaan golongan antibiotik ini disarankan sesuai dengan resep atau anjuran dokter.

Perlu diketahui, sefalosporin dapat menyebabkan beberapa efek samping, seperti sakit kepala, nyeri bagian dada, bahkan menyebabkan syok. Sefalosporin juga terdiri dari berbagai jenis, seperti Cefadroxil, Cefuroxime, Cefixime, Cefotaxime, Cefepime, dan Ceftaroline.

3. Aminoglikosida

Biasa digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri aerob gram-negatif. Golongan antibiotik yang ketiga ini cukup ampuh melawan bakteri seperti Mycobacterium Tuberculosis dan Staphylococcus. Pemakaian aminoglikosida dapat dikombinasikan dengan golongan antibiotik lainnya.

Antibiotik ini bekerja dengan menghambat sintesis protein pada bakteri, sehingga bakteri tidak bisa bertumbuh kembang. Aminoglikosida memiliki jenis yang beragam, mulai dari Paromomycin, Tobramycin, Gentamicin, Amikacin, Kanamycin, dan Neomycin. Seperti antibiotik lainnya, penggunaan aminoglikosida juga perlu mendapatkan resep dari dokter serta di bawah pengawasan dokter, sebab antibiotik ini bisa menimbulkan efek samping berupa gangguan kesadaran.

4. Tetrasiklin

Tetrasiklin bisa digunakan untuk mengobati berbagai infeksi seperti infeksi pernapasan, infeksi pada alamat kelamin atau infeksi menular seksual, infeksi yang ditularkan dari hewan, infeksi usus, serta infeksi kulit seperti jerawat.

Anjuran untuk mengonsumsi golongan antibiotik ini yaitu diminum saat perut kosong atau dua jam sebelum makan. Tetrasiklin dapat menimbulkan beberapa efek samping, seperti mual dan muntah, diare, gatal pada kulit, nyeri pada beberapa bagian tubuh, serta demam.

5. Makrolida

Golongan antibiotik ini bisa mencegah dan mengobati penyakit seperti infeksi saluran pernapasan, infeksi kulit, bronkitis, servisitis, penyakit Lyme, pemfigus, dan sinusitis. Makrolida tersedia dalam berbagai bentuk, yakni tablet, kaplet, sirup kering, dan suntikan.

Cara kerja makrolida sama seperti golongan antibiotik lainnya yaitu menghambat sintesis pada bakteri. Antibiotik ini terdiri dari beberapa jenis, antara lain Erythromycin, Azithromycin, dan Clarithromycin.

6. Quinolone

Quinolone ampuh mengatasi penyakit seperti infeksi saluran kemih, infeksi kulit, infeksi mata, infeksi telinga, sinusitis, bronkitis, pneumonia, radang panggul, hingga infeksi menular seksual.

Golongan antibiotik yang memiliki bentuk kaplet, tablet, dan suntikan ini harus dikonsumsi sesuai dengan anjuran dokter agar tidak menimbulkan efek samping berupa gangguan pada sistem saraf pusat.

7. Kloramfenikol

Baik digunakan untuk mengatasi demam tifus, paratifus, meningitis, dan infeksi pada mata dan telinga. Sama seperti yang lainnya, kloramfenikol juga berfungsi menghambat sintesis protein yang mencegah bakteri berkembang biak.

Sebagai catatan, golongan antibiotik ini memiliki beberapa efek samping yang cukup serius, seperti mual, muntah, diare, sakit kepala, pendarahan pada saluran cerna, gangguan penglihatan, hingga kebutaan. Dengan begitu, penggunaan antibiotik ini harus sesuai dengan anjuran disertai dengan pengawasan dokter.



Simak Video "Obat Covid Remdesivir Disetujui untuk Anak di Bawah 12 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)