Selasa, 04 Jan 2022 05:34 WIB

Round Up

Fakta-fakta Booster Vaksin COVID-19 yang Bakal Dimulai 12 Januari

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Program vaksinasi massal di Tangerang terus dilakukan. Vaksinasi COVID-19 kini sasar orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan individu berkebutuhan khusus (IBK). Booster Vaksin COVID-19 (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadiki memberikan kabar terbaru soal program vaksinasi booster COVID-19. Ia mengungkapkan bahwa program tersebut bakal dilaksanakan pada 12 Januari 2022 mendatang.

Dalam pelaksanaannya, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi. Baik dari penerima vaksin yang sesuai dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga wilayah yang sudah boleh mendapatkan vaksin booster.

"Program vaksinasi booster sudah diputuskan oleh presiden akan dijalankan pada 12 Januari, ini diberikan ke golongan dewasa di atas 18 tahun sesuai dengan rekomendasi WHO," kata Menkes Budi dalam konferensi pers, Senin (3/1/2022).

Menkes Budi mengatakan untuk kriteria wilayah yang bisa melakukan program vaksinasi booster ini dilihat dari cakupan vaksinasi COVID-19. Program ini baru bisa dijalankan di kabupaten atau kota yang sudah memenuhi cakupan vaksinasi dosis pertama sebanyak 70 persen dan 60 persen untuk dosis kedua.

Berdasarkan hal itu, sampai hari ini baru 244 kabupaten dan kota yang sudah berhasil memenuhi kriteria yang ditetapkan ini.

Teknis pemberian vaksin booster

Dalam pemaparannya, Menkes Budi juga menjabarkan teknisnya. Vaksin booster ini akan diberikan dengan jangka waktu enam bulan dari vaksin dosis kedua.

Soal jenis vaksin dan skema vaksinasi booster ini masih belum bisa dipastikan. Sebab, Menkes Budi mengatakan masih menunggu hasil tinjauan yang dilakukan ITAGI dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Ini juga akan diberikan dengan jangka waktu di atas 6 bulan, sesudah dosis kedua. Kita identifikasi sudah ada sekitar 21 juta sasaran di bulan Januari yang sudah masuk ke kategori ini," beber Menkes Budi.

"Dan jenis boosternya akan kami tentukan, ada yang homolog atau satu jenis yang sama dan ada yang heterolog atau jenis vaksinnya berbeda. Ya mudah-mudahan nanti akan bisa segera diputuskan tanggal 10 Januari 2022 sesudah keluar rekomendasi dari ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization) dan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan)," jelasnya.

Stok vaksin

Terkait harganya, Menkes Budi mengungkapkan masih belum ditentukan. Ini juga masih dalam tinjauan lebih lanjut oleh ITAGI dan BPOM.

Jika dari hasil tinjauan ITAGI dan BPOM terhadap vaksin COVID-19 yang ada saat ini menunjukkan tidak ada perbedaan dari sisi efektivitas, kemungkinan booster COVID-19 ini nantinya bisa dipenuhi dari yang gratis.

Pada kesempatan yang sama, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah telah menyiapkan tiga opsi dalam pelaksanaan vaksinasi booster ini. Itu terdiri dari program pemerintah, penerima bantuan iuran (PBI) BPJS Kesehatan, dan berbayar atau mandiri.

"Pak Menkes akan menjelaskan (soal vaksin booster), tetapi opsi itu tetap ada. Ada opsi PBI dan program dan mandiri, itu opsinya," pungkas Airlangga.



Simak Video "Efektivitas Booster Pfizer dan Moderna Nantinya akan Menurun "
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)