Selasa, 04 Jan 2022 11:30 WIB

Kata Pakar soal Masa Karantina RI Berubah-ubah Bikin Bingung Publik

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Wide-angle view of a modern aircraft gaining the altitude outside the glass window facade of a contemporary waiting hall with multiple rows of seats and reflections indoors of an airport terminal El Prat in Barcelona Masa karaantina berubah-ubah. (Foto: Getty Images/iStockphoto/skyNext)
Jakarta -

Publik dibuat bingung aturan masa karantina. Usai sebelumnya ditetapkan menjadi 10 hingga 14 hari, kini pemerintah kembali memangkas masa karantina menjadi 10 hari, khusus bagi pelaku perjalanan luar negeri dengan jumlah kasus COVID-19 tinggi.

Aturan masa karantina ini berubah dalam kurun waktu kurang dari sepekan. Menurut ahli epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman, seharusnya penerapan perubahan masa karantina dilakukan secepatnya satu minggu.

"Kalau langsung ya merugikan, kebijakan ke luar penerapannya ini harus ada waktu, 2 minggu lagi misalnya, atau paling cepat seminggu lagi," beber Dicky saat dihubungi detikcom Selasa (4/1/2022).

Terkait masa karantina yang ideal, Dicky menyebut waktu yang paling aman memang 14 hari. Berkaca pada temuan kasus COVID-19 Taiwan, pasien positif COVID-19 baru mengeluhkan gejala di hari ke-12.

"Iya memang masa karantina paling minimal 7 hari dengan alasan ya tadi masa inkubasi singkat itu rata-rata 3 sampai 5 hari ditambah 2 hari, plus status vaksinasi penuh," lanjut dia.

"Namun menurut saya ini juga agak gambling sebetulnya karena sekarang ditemukan 97 persen rata-rata baru menunjukkan gejala dari hari ke 11-12," sambung Dicky.

Hal inilah yang kemudian membuat banyak negara memperpanjang masa karantina menjadi 14 hari, termasuk Australia. Meski pemerintah tak menerapkan masa karantina 14 hari, risiko penyebaran bisa diminimalisir dengan kepastian pelaku perjalanan sudah divaksinasi penuh hingga vaksinasi booster.

Satu hal yang tak kalah penting ditegaskan Dicky adalah memonitoring karantina tersebut. Selain skkrining dengan aplikasi PeduliLindungi yang perlu diperketat, Dicky juga menyinggung pentingnya hasil tes negatif COVID-19 sebelum kepulangan masa karantina dilakukan dua kali.

Pelaku perjalanan luar negeri paling banyak menyumbang kasus Omicron di Indonesia, dari ratusan kasus positif COVID-19 Omicron di Tanah Air, hanya enam di antaranya yang sejauh ini tercatat sebagai transmisi lokal.



Simak Video "98 Persen Kasus Omicron dari Luar, Pemerintah Perketat Karantina"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)