Super Immunity Vs Herd Immunity COVID-19, Apa Sih Bedanya? Ini Penjelasan Ahli

ADVERTISEMENT

Super Immunity Vs Herd Immunity COVID-19, Apa Sih Bedanya? Ini Penjelasan Ahli

Atilah Tia Abelta - detikHealth
Sabtu, 08 Jan 2022 09:45 WIB
Pandemi COVID-19 DKI Jakarta makin hari makin terkendali. Salah satu indikatornya persentase kasus positif COVID-19 sudah berada di angka 0,9 persen.
Apa beda super immunity vs herd immunity? (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengklaim Indonesia kemungkinan mengalami super-immunity, sebab banyak warga yang sembuh dari COVID-19 dan kemudian menjalani vaksinasi. Lalu, apa bedanya super immunity dengan herd immunity?

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama mengatakan, perbedaan herd immunity dengan super immunity terdapat pada objek yang memilikinya.

Dalam keterangan tertulis, Prof Tjandra mengatakan super immunity adalah sistem kekebalan yang hanya didapat oleh satu individu saja. Super immunity ini hanya bisa melindungi diri sendiri dan tidak semua orang memilikinya. Super Immunity terbentuk dari tubuh seseorang yang pernah terpapar COVID-19 lalu menerima suntikan vaksin.

Mereka yang sembuh dari COVID-19 akan terbentuk antibodi, inilah yang disebut imunitas alamiah. Data menunjukkan bahwa mereka yang pernah terpapar COVID-19 lalu sembuh dan kemudian menerima vaksin, maka imunitasnya akan tumbuh menjadi lebih baik lagi. Inilah yang disebut sebagai 'super immunity' atau nama lainnya 'hybrid immunity'.

Selain Itu, ternyata pemberian vaksin ke tiga atau "booster" akan memberi perlindungan sama seperti "super-immunity" pada mereka yang belum pernah sakit sebelumnya.

Dalam kesempatan berbeda, ia juga menjelaskan mengenai herd immunity atau kekebalan kelompok. Herd immunity merupakan kekebalan pada kelompok orang, seperti kota, negara, pulau, bahkan desa. Berbeda dengan super immunity yang hanya bisa melindungi diri sendiri, herd immunity bisa melindungi orang lain yang memang tidak menerima vaksinasi.

"Kalau herd kan keadaan suatu negara, suatu masyarakat, kelompok yang sudah memiliki antibodi. Jadi bukan semuanya punya antibodi tapi di kelompok itu 70 sampai 80 persennya memiliki antibodi," kata Tjandra kepada CNNIndonesia.com, Jumat (7/1).

Misal kata Tjandra di suatu kelompok ada orang yang tidak bisa menerima vaksin karena beberapa alasan, jika herd immunity sudah terbentuk di kelompok itu, maka orang yang tidak divaksin tersebut bisa tetap terlindungi.

"Jadi herd immunity itu terbentuk di kelompok untuk melindungi orang lain, biasanya terbentuk karena vaksinasi," papar Tjandra.

"Di kelompok herd immunity mungkin ada orang yang punya super immunity, tapi suatu kelompok tidak memerlukan super imun agar bisa membentuk herd immunity. Mudahnya begini, herd immunity itu kelompok, kalau super imun itu personal," sambungnya.



Simak Video "Bisakah Booster Ciptakan 'Super Immunity'? Ini Kata Eks Petinggi WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT