Jumat, 14 Jan 2022 11:08 WIB

Beri Izin Molnupiravir, BPOM Jelaskan Cara Pakai untuk COVID Gejala Ringan-Sedang

Vidya Pinandhita - detikHealth
Molnupiravir BPOM memberikan izin penggunaan untuk obat COVID-19 Molnupiravir. Foto: Khadijah Nur Azizah
Jakarta -

Pemerintah mengamankan 400 ribu tablet Molnupiravir, besutan farmasi Amerika Serikat Merck and Co. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut ketersediaan Molnupiravir untuk mengatas gelombang varian Omicron, yang puncaknya diprediksi Februari 2022 mendatang.

"Memastikan kesiapan 400.00 tablet Molnupiravir untuk menghadapi gelombang Omicron," tutur Menkes dalam akun Instagram pribadi, Jumat (14/1/2022).

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebelumnya sudah memberikan izin penggunaan darurat Molnupiravir sebagai pengobatan infeksi COVID-19. Tentunya berdasarkan hasil riset atau analisis para ahli.

"Setelah melalui evaluasi terhadap data-data hasil uji klinik bersama dengan Tim Ahli Komite Nasional Penilai Obat serta asosiasi klinisi untuk persetujuan EUA ini, Badan POM bersama Kementerian Kesehatan juga akan terus memantau keamanan penggunaan Molnupiravir di Indonesia," ujar Kepala BPOM Penny K Lukito dalam keterangan tertulis, Kamis (13/1/2022).

Obat Molnupiravir yang disetujui berupa kapsul 200 mg yang didaftarkan oleh PT. Amarox Pharma Global dan diproduksi Hetero Labs Ltd, India. Obat ini diindikasikan sebagai pengobatan infeksi COVID-19 ringan sampai sedang pada pasien berusia 18 tahun ke atas yang tidak memerlukan pemberian oksigen dan peningkatan risiko menjadi infeksi COVID-19 berat.

Obat ini diberikan dua kali sehari sebanyak 4 kapsul (@200 mg) selama lima hari.

Semempan apa atasi infeksi COVID-19?

Berdasarkan hasil uji klinik fase 3, obat Molnupiravir efektif menurunkan risiko perawatan di rumah sakit atau kematian sebesar 30 persen pada pasien COVID-19 derajat ringan hingga sedang, dan 24,9 persen pada pasien COVID-19 ringan.

Kemudian berdasarkan hasil evaluasi aspek keamanan, Molnupiravir memberikan efek samping yang dapat ditoleransi. Efek samping yang paling sering dilaporkan yakni mual, sakit kepala, mengantuk, nyeri abdomen, dan nyeri orofaring.

Hasil uji non-klinik dan uji klinik menunjukkan molnupiravir tidak menyebabkan gangguan fungsi hati. Namun catatannya, Molnupiravir tidak boleh digunakan pada wanita hamil. Wanita usia subur yang tidak hamil harus menggunakan kontrasepsi selama pemberian Molnupiravir.



Simak Video "Inggris Negara Pertama yang Gunakan Molnupiravir Sebagai Obat Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)