Selasa, 18 Jan 2022 08:12 WIB

KPAI: 88% Kekerasan Seksual Anak di Sekolah Pelakunya Guru dan Kepala Sekolah

20detik - detikHealth
Jakarta -

Herry Wirawan, terdakwa kasus pemerkosaan terhadap 13 santriwati dituntut hukuman mati dan kebiri kimia. Terlepas proses hukum masih berjalan, kasus ini seakan menjadi 'peluit' tanda bahaya kekerasan seksual, khususnya pada anak.

Faktanya, kasus kekerasan seksual seperti yang Herry lakukan, banyak terjadi di Indonesia. Kekerasan ini bahkan terjadi di ranah pendidikan seperti sekolah dan pesantren.

"Kalau kami pakai data saja, khusus di pendidikan ya. Pada tahun 2021 kemarin, kasusnya ada 18. 88% pelakunya adalah guru, dan 22% adalah kepala sekolah atau setingkatnya. Jadi, ini terus terjadi, gitu ya. Berkali-kali, dan pada tahun 2021 ini banyak sekali kasus di pesantren," tutur Retno Listyarti, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia, di acara e-Life detikcom.

Relasi kuasa yang timpang menjadi salah satu penyebab utama langgengnya kekerasan seksual pada anak. Anak akan terdesak untuk menuruti figur otoritasnya, bahkan ketika orang tersebut melakukan kekerasan padanya.

"Modusnya rata-rata itu satu adalah diiming-imingi. Yang kedua, diancam. Jadi, relasi kuasa yang timpang ini, relasi kuasa guru atau pendidik atau kepala sekolah, atau kepala pesantren ini yang kemudian dimanfaatkan. Dan anak-anak ini nggak berdaya, karena kalau nggak mengikuti, 'Nanti saya nggak lulus, atau nanti saya dianggap melawan guru,' dan lain-lain," jelas Retno.

Kekerasan seksual pada anak ibarat gunung es. Kasus-kasus yang terlapor disinyalir tak sebanding dengan yang terbungkam. Kekerasan seksual dianggap aib, ditambah perundungan dan intimidasi terhadap korban dari masyarakat sebabkan korban dan keluarga enggan melapor.

"Misalnya, ada kasus di satu pesantren. Kan ini polisi masih mendalami proses, lalu sudah naik tuh ke penyidikan. Tapi belum juga menetapkan tersangka. Lalu apa yang terjadi? Empat anak yang melapor itu, yang menjadi korban itu mereka di-bully oleh lingkungannya. Dianggap fitnah, dianggap bohong, dan lain-lain. Nah ini yang sering sekali terjadi, sehingga korban kekerasan seksual itu kerap kali tidak mau melapor. Karena tadi, secara psikologi aja dia butuh penguatan, nah ini belum kuat saja dia mengalami pem-bully-an," lanjut Retno.

(fuf/ids)