Selasa, 18 Jan 2022 17:12 WIB

Pemulihan Psikis dan Restitusi adalah Hak Korban Kekerasan Seksual

dtv - detikHealth
Jakarta -

Jakarta - Anak yang menjadi korban kekerasan seksual umumnya mengalami banyak penderitaan, mulai dari kerusakan fisik, kemunduran mental, hingga perlakuan tidak adil. Untuk itu, penanganan terhadap para penyintas harus mampu memulihkan penderitaan- penderitaan yang mereka alami.

"Kalaupun tidak mau dilaporkan, setidaknya anak mendapatkan bantuan, yaitu pemulihan psikologis. Pemulihan kesehatannya, itu adalah hak yang diatur lewat undang-undang. Dan harusnya korban memperoleh restitusi (ganti kerugian) Itu penting banget tuh. Harus dipahami. Jadi, seringkali, jaksa penuntut tidak menerapkan tuntutan ini gitu. Sehingga, kalau tidak dituntut, hakim tidak memutuskan tuh soal restitusi," jelas Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Retno Listyarti di acara e-Life detikcom.

Pemulihan psikologis pada anak juga harus disertai dukungan orang-orang di sekitarnya. Anak harus diyakinkan bahwa ia berhak pulih dan keadaannya akan membaik.

Menurut Psikolog Anak dan Remaja, Irma Gustiana A., dalam proses pemulihan, anak seringkali kesulitan untuk bercerita. Hal ini harus dimaklumi, karena butuh waktu sampai anak siap menceritakan hal buruk yang terjadi padanya.

"Yang paling penting adalah kita mau mendengarkan. Kalau misalnya dia belum mau cerita, kita nggak bisa paksa. Karena kesiapan anak untuk menceritakan sebuah kejadian buruk itu perlu waktu. Karena kadang-kadang setiap kali dia me-recall kembali ingatan dia terkait dengan pengalaman buruknya, itu menyisakan perasaan yang sangat sakit sekali di hatinya, di kedalaman emosinya," terang Irma.

Irma juga menyarankan untuk mengajak anak melakukan aktivitas menyenangkan. Langkah ini bisa menjadi pelipur lara anak usai mengalami kejadian traumatis.

"Berikan kesibukan gitu ya. Jadi, misalnya mengajak dia bermain, berekreasi, paling tidak, itu mengaktivasi hormon bahagia dia yang lain gitu. Sehingga, artinya luka emosionalnya tadi itu tidak bertambah berat," jelasnya.

Apabila diperlukan, pindah domisili juga merupakan usaha dalam pemulihan psikologis anak pasca alami kekerasan seksual. Hal ini untuk menghindari pertemuan anak dengan pelaku, atau agar mengurangi trauma anak terhadap tempat-tempat tertentu yang berkorelasi dengan kekerasan yang dialaminya.

"Ada yang pindah domisili, pindah kota, sehingga memang proses pemulihannya itu dibantu ketika dia sudah merasa lingkungan saya itu aman, lingkungan saya itu tidak menakutkan atau tidak ya tadi, tidak, misalnya, pelakunya adalah tetangga gitu ya. Itu kan pasti menimbulkan ketakutan, apalagi jika mereka tidak melaporkan, gitu. Itu akan memberikan dampak yang buruk bagi perkembangan psikologis anak," kata Irma.

Pendampingan psikologis oleh profesional, seperti psikolog dan psikiater juga sangat dianjurkan. Hal ini agar anak mendapatkan penanganan yang tepat sesuai kebutuhannya.

(mjt/ids)