Rabu, 19 Jan 2022 07:15 WIB

Berubah Gegara Omicron, Ini Prediksi Terbaru WHO soal Kapan Pandemi Berakhir

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Jakarta -

Puncak Omicron di beberapa negara mulai mereda, meski tak sedikit yang masih mengalami lonjakan kasus. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ikut merespons beberapa dugaan pandemi akan segera berakhir di tengah tingginya penularan varian Omicron.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreysus menegaskan belum ada negara yang keluar dari pandemi. Menurutnya, sistem perawatan kesehatan di banyak negara kini masih berada di bawah tekanan gelombang Omicron, tingkat penularan tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Saya mendesak semua orang untuk melakukan yang terbaik, untuk mengurangi risiko infeksi sehingga Anda dapat membantu menghilangkan tekanan di sistem kesehatan," kata Tedros.

"Sekarang bukan waktunya untuk menyerah dan mengibarkan bendera putih."

Kapan Pandemi Berakhir?

Berulang kali Tedros mengingatkan distribusi vaksin yang tak merata di seluruh dunia memicu risiko munculnya varian baru. Distribusi vaksin ini masih menjadi masalah.

WHO menetapkan target setiap negara setidaknya memvaksinasi 40 persen dari populasi di akhir tahun 2021, tetapi ada 92 negara yang belum mencapai target tersebut.

"Pandemi ini belum berakhir dan dengan pertumbuhan Omicron yang luar biasa secara global, varian baru kemungkinan akan muncul, itulah sebabnya tracing dan testing tetap penting," kata Tedros.

Senada, Kepala tim teknis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Maria Van Kerkhove juga mengingatkan varian Omicron memiliki tingkat infeksi yang tinggi dibandingkan varian lain. Karenanya, berisiko memicu virus terus bermutasi.

"Kami mendengar banyak orang meyakini Omicron adalah varian terakhir dan pandemi akan segera berakhir setelah ini. Itu tak akan terjadi karena virus ini beredar pada tingkat yang sangat intens di seluruh dunia," sebut Maria Van Kerkhove.

Kasus harian COVID-19 dunia belakangan meningkat 20 persen, sepekan terakhir hampir 19 juta orang dilaporkan terpapar COVID-19 berdasarkan catatan WHO. Menurut Van Kerkhove, angka sebenarnya bisa jauh lebih tinggi dari yang dilaporkan.

Ia mendesak pemerintah di banyak negara untuk mengevaluasi dan terus memonitoring catatan kasus COVID-19 varian Omicron, agar transmisi bisa dicegah.

"Jika kita tidak melakukan ini sekarang, kita akan beralih ke krisis berikutnya," katanya.

Van Kerkhove meminta pemerintah untuk berinvestasi lebih banyak dalam sistem pengawasan untuk melacak virus saat bermutasi. "Ini tidak akan menjadi varian terakhir yang menjadi perhatian," dia menekankan.

(naf/up)