Rabu, 19 Jan 2022 08:30 WIB

BPOM Buka Suara Soal Alasan Vaksin Booster COVID-19 Diberikan Setengah Dosis

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Viostin DS dan Enzyplex Ditarik Dari Peredaran

Kepala Bada Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito melakukan jumpa pers terkait perkembangan kasus pelanggaran produk Viostin DS dan Enzyplex yang mengandung DNA babi di Jakarta, Senin (5/6/2018). Dalam hasil penyelidikan BPOM, kedua produk tersebut positif mengandung DNA babi. Atas temuan ini kedua produk tersebut ditarik dari peredaran. Grandyos Zafna/detikcom BPOM sebut satu dosis vaksin COVID-19 efeknya sangat berat. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Pemerintah memilih memberikan vaksin COVID-19 booster setengah dosis. Bukan tanpa alasan, vaksinasi booster setengah dosis ini disebut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sudah melalui kesepakatan para ahli termasuk ITAGI.

Amerika Serikat juga menjadi salah satu negara yang memberikan vaksin booster setengah dosis, khususnya vaksin COVID-19 Moderna. Lantaran efek kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) bisa diminimalisir dengan pemberian booster hanya setengah dosis.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) Penny K Lukito ikut buka suara terkait kekhawatiran dugaan pemberian vaksin booster setengah dosis dikaitkan dengan stok vaksin terbatas. Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, dirinya menegaskan suntikan satu dosis booster malah bisa memicu reaksi berat.

"Belajar dari Moderna, kemarin mereka sudah melakukan uji klinik lebih dulu dan kami mendapatkan datanya. Bahwa dengan satu booster satu dose efeknya sangat berat, jadi aspek keamanan lebih berisiko dengan satu dose Moderna," kata Penny, Selasa (18/1).

"Hasil penelitian mereka (Moderna) menunjukkan half dose meningkatkan titer antibodinya yang tinggi dan bedanya hanya sedikit, akhirnya dengan aspek keamanan, dipilih yang half dose," sambungnya.

kombinasi vaksin booster covid-19 bpom ri 17 januariKombinasi vaksin booster COVID-19 versi BPOM RI per 17 Januari Foto: Uyung/detikHealth

Hasil riset atau data uji klinik yang diterima BPOM untuk memberikan izin darurat atau emergency use of authorization (EUA) menemukan antibodi dari suntikan satu dan setengah dosis tak jauh berbeda. Dengan efek atau reaksi pasca vaksin minimal, antibodi pasca vaksinasi dengan setengah dosis juga meningkatkan 'kekebalan' tubuh melawan COVID-19.

"Data-data uji klinik yang diterima BPOM untuk keluarkan EUA itu diterima data-data uji klinik dari luar negeri untuk uji klinik booster yang homolog, dan pemerintah lakukan uji klinik untuk booster heterolog dengan kombinasi one dose dan half dose," sebut Penny.

"Didapatkan hasil data yang meningkatkan imunogenisitas yang tidak jauh berbeda antara one dan half dose. akhirnya dengan berbagai aspek, dipilihlah half dose," pungkas dia.

4 Kombinasi vaksin booster COVID-19 dari Kemenkes RI4 Kombinasi vaksin booster COVID-19 dari Kemenkes RI Foto: infografis detikHealth


Simak Video "Australia Siapkan Vaksin Dosis Ke-4, Jadi Alasan Berani Buka Perbatasan"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)