Rabu, 19 Jan 2022 13:26 WIB

Cegah Kekerasan Seksual Anak melalui Pendidikan Seks dan Satgas Khusus

dtv - detikHealth
Jakarta -

Jakarta - Kekerasan seksual pada anak masih marak terjadi di Indonesia. Tak hanya perempuan, faktanya kekerasan juga menyasar pada anak laki-laki.

Minimnya pendidikan seksual menjadi salah satu faktor kasus kekerasan berulang kali terjadi. Orang tua didorong untuk sedini mungkin memberikan pemahaman kepada anak tentang tubuhnya, sehingga anak bisa belajar melindungi diri dari ancaman kekerasan seksual.

"Di kasus-kasus kami, tahun 2021 saja, dari 197 korban, gitu, 71 adalah anak laki-laki. Memang untuk kekerasan seksual, kita harusnya mengajarkan anak-anak soal pendidikan seksual sejak dini. Nah, ini jarang sekali orang tua di Indonesia itu melakukan. Karena menganggap itu tabu, gitu ya. Kemudian, dari kecil harus ajarkan bahwa misalnya saat mandiin, ini ada bagian tubuhmu yang nggak boleh dipegang orang lain. Kalau kamu pakai baju renang, ya ditutup, laki-laki maupun perempuan ya," jelas Retno Listyarti, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia, di acara e-Life detikcom.

Psikolog Anak dan Remaja, Irma Gustiana A. juga sependapat dengan Retno. Menurut Irma, pendidikan seks harus diberikan pada anak mulai dari usia balita, remaja, dan seterusnya. Pemahaman ini juga harus diberikan berkali-kali hingga anak benar-benar menghayati.

"Yang namanya pendidikan seksualitas itu bukan sesuatu yang hanya single lecture, sekali dikasih tahu terus anaknya ngerti gitu. Jadi memang perlu membahasnya secara berulang, sampai akhirnya dia benar-benar menghayati dan memahami gitu. Misalnya, mana bagian tubuh yang boleh disentuh, mana yang tidak boleh disentuh, dan bagaimana caranya ketika saya dalam posisi memang dipaksa, lalu kemudian juga diajak melakukan sesuatu. Nah, ini anak jadi punya keberanian, karena dia tahu bahwa itu adalah bagian yang tidak boleh dipegang, tidak boleh disentuh oleh orang lain," terang Irma.

Anak juga harus dilatih untuk berani bersuara. Diimbangi dengan edukasi seks yang benar, anak akan berani membela dirinya saat ia merasa tak nyaman. Selain itu, dengan kemampuan ini, anak akan lebih leluasa bercerita pada orang tuanya jika ada yang ingin ia sampaikan.

"Kemampuan untuk berargumentasi dan bicara, itu memang pondasinya dari komunikasi yang dibentuk oleh keluarga. Jadi kalau sejak dini anaknya nggak diberikan kebebasan untuk berkomunikasi atau menyatakan pendapat, itu akan membuat dia juga merasakan ketakutan ketika misalnya ada sesuatu hal yang ingin dia sampaikan pada orang tuanya," jelas Irma.

Selain itu, demi terwujudnya lingkungan sekolah yang aman termasuk dari kekerasan seksual, perlu kontrol yang ketat. Oleh karena itu, adanya Satuan Tugas Anti Kekerasan dirasa perlu.

"Satgas ini sebenarnya bukan hanya guru, bukan hanya kepala sekolah, dan murid. Tapi juga stakeholder. Jadi bisa RT, RW, kemudian kepolisian terdekat, tujuannya apa? Ya tadi, kita bisa sama-sama mengontrol tentang kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan," tutur Retno.

Retno juga menekankan pentingnya keberadaan sistem pengaduan yang aman dan tidak tunggal. Korban yang melaporkan gurunya sendiri berisiko dianggap memfitnah guru, dan keadaan bagi korban justru memburuk.

"Yang kedua adalah papan-papan pengumuman, ya. Jadi sistem pengaduan harus dibangun, tidak hanya di sekolah itu. Jadi artinya bukan cuma ngadu di sekolah, kalau ngadu di sekolah kemudian yang diaduin adalah guru, ustadz, mungkin nggak berani, khawatir orang nggak yakin, nggak percaya, dikira fitnah, dan lain-lain," jelasnya.

Tindakan pencegahan juga bisa dilakukan orang tua saat hendak memasukkan anak ke sekolah. Pastikan bahwa kondisi sekolah memungkinkan bagi orang tua untuk memantau perkembangan sang anak.

"Nah, teknologi CCTV itu harusnya ada. Dan harusnya orang tua, ketika memilih sekolah berasrama, itu harus hati-hati. Lihat rekam jejaknya. Dan lakukan survei. Ada nggak, tempat-tempat blank spot dan tidak ada CCTV. Lalu, harusnya juga dipastikan, kami bisa nggak mengakses anak-anak kami? Gitu. Kan kasus Herry Wirawan, ada anak yang sampai 1 tahun nggak pernah pulang," kata Retno.

(mjt/mjt)